PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP) mengambil langkah untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan pekerja wanita Indonesia yang bermukim di Kuala Lumpur, Malaysia. Inisiatif ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat atau *PKM* kolaboratif internasional yang dilakukan UMP bersama Manajemen Bisnis Syariah Kuala Lumpur. Ketua program *PKM* Kolaboratif Internasional UMP, Nurlia, menyatakan bahwa salah satu isu yang mendapatkan perhatian serius adalah fenomena investasi ilegal yang merugikan banyak pihak. Investasi yang menawarkan berbagai produk, seperti emas, surat berharga, valuta asing, dan properti, sering kali dijadikan ladang penipuan. Nurlia menyayangkan tingginya tingkat ketertarikan masyarakat terhadap investasi tanpa disertai dengan kehati-hatian dalam mencari informasi dan memverifikasi jenis serta perusahaan investasi yang dituju. “Kami berkomitmen untuk memberikan edukasi dan meningkatkan literasi keuangan syariah bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya. Dia menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang tergoda oleh tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan atau bagi hasil tinggi tanpa melakukan pengecekan terhadap kredibilitas dan legalitas perusahaan yang menawarkan. Dampaknya, bukan keuntungan yang diperoleh, melainkan kerugian akibat terjebaknya mereka dalam skema penipuan. Lebih lanjut, Nurlia menegaskan bahwa masalah mendasar dari maraknya praktik investasi ilegal adalah rendahnya pemahaman masyarakat terkait Lembaga Keuangan Syariah. “Kami berharap agar masyarakat dapat berpikir secara logis dan tidak terburu-buru tergiur oleh tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar. Ini penting untuk menghindari kerugian,” tuturnya. Dalam konteks literasi dan inklusi keuangan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar, Maulana Yasin, mengungkapkan hasil survei yang dilakukan OJK pada tahun 2022. Indeks literasi dan inklusi keuangan secara nasional tercatat masing-masing sebesar 49,684 dan 85,104. Untuk Provinsi Kalimantan Barat, indeks literasi keuangan mencapai angka 51,954, yang menunjukkan angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Namun, untuk indeks inklusi keuangan, tercatat 84,164 yang sedikit lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 0,944. ANTARA