BORNEONEWS, Palangka Raya - Palangka Raya bertambah usia menjadi tahun ke-59 pada 17 Juli 2016. Syukuran acara hari jadi ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah ini akan digabung dengan HUT ke-51 Palangkaraya sebagai kotamadya pada 17 Juni lalu.
Pemerintah Kota Palangka Raya sudah menetapkan tema HUT kali ini. Tema itu adalah ‘Kita Optimalkan Kinerja Pemerintah dalam Pelayanan kepada Masyarakat yang Lebih Baik’.
Saat ini jumlah masyarakat yang dilayani pemerintah kota terus meningkat. Data kependudukan hasil Sensus Penduduk 2010 menyebutkan, jumlah penduduk Kota 220.962 jiwa, kemudian naik menjadi 252.105 jiwa (2014, BPS Kalteng).
Peningkatan ini terjadi karena pengaruh urbanisasi. Palangka Raya sebagai Ibukota Kalimantan Tengah tentu dianggap sebagian besar warga sebagai tempat menaruh harapan hidup lebih baik ketika pindah ke kota bermotto Cantik (Terencana, Aman, Nyaman, Tertib, Indah, dan Keterbukaan) ini.
Fasilitas publik yang tersedia harus terus ditambah guna mengimbangi meningkatnya jumlah penduduk tersebut. Beberapa fasilitas umum di tengah kota mulai dibangun. Ini sebagai gerakan mempercantik ruang terbuka hijau (RTH) melalui revitalisasi taman-taman terutama di median jalan.
Penambahan taman kota juga dilakukan antara lain penggusuran pusat kuliner malam di Jalan Yos Sudarso menjadi Boulevard, pembangunan Taman jalan Hasanuddin, dan terakhir adalah relokasi pedagang bunga Jalan Garuda untuk diganti dengan taman guna menambah jumlah RTH. Yang belum banyak tersentuh adalah hutan kota yang terletak persis di belakang Balaikota.
Pembangunan manusia di Kota Palangka Raya terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada 2014 sebesar 78,50 dan naik 0,15 poin menjadi 78,62 pada 2015, dan ini selalu tertinggi dibanding 13 kabupaten lain di Kalimantan Tengah. Sementara dibanding IPM Kalteng, Pada tahun 2015 mencapai 68,53, meningkat sebesar 0,76 poin dibandingkan dengan IPM 2014 yang sebesar 67,77.
Ada beberapa kendala dalam pembangunan kota yang masih berlangsung hingga saat ini. Seperti masalah tata ruang kota yang masih belum maksimal digarap, drainase yang belum tertangani maksimal sehingga ketika hujan deras dengan mudahnya air meluap menggenangi jalan raya, juga masalah sampah yang masih belum tertangani dengan baik.
Kondisi terakhir, timbulan sampah kota mencapai 119.910 Kg atau 119,9 ton per hari. Tetapi yang mampu diangkut hanya 57 ton per hari atau separuhnya.
Walikota Palangka Raya Riban Satia menyebut, kondisi persampahan bertambah runyam karena tingkat kesadaran buang sampah yang rendah di masyarakat. Sebab catatan Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Perumahan (Disciptarum), sumber timbulan sampah terbanyak adalah rumah tangga (Permukiman).
“Bahkan terbukti ketika hujan deras, pemandangan di sejumlah selokan atau saluran drainase banyak ditemukan sampah mengambang lalu menyumbat saluran yang seharusnya hanya dilewati air tersebut,” kata Riban. (ROZIKIN/m)








