JAKARTA –
**Borneonews - Ulan Bator**, Presiden Rusia, Vladimir Putin, melakukan kunjungan resmi ke Mongolia pada hari Senin, 2 September. Ini adalah kunjungan pertamanya ke negara yang merupakan anggota Mahkamah Pidana Internasional (*International Criminal Court*, ICC) sejak pengadilan tersebut mengeluarkan surat perintah penangkapannya pada Maret 2023. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kremlin, dijelaskan bahwa kunjungan ini berlangsung atas undangan Presiden Mongolia, Ukhnaagiin Khurelsukh. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk merayakan ulang tahun ke-85 kemenangan gabungan antara angkatan bersenjata Soviet dan Mongolia terhadap militer Jepang di Sungai Khalkhin Gol. Putin dijadwalkan berada di Mongolia selama dua hari, dengan agenda pertemuan bilateral yang melibatkan berbagai pihak, termasuk diskusi dengan Khurelsukh. Selain itu, akan ada penandatanganan beberapa dokumen kerjasama dan upacara peletakan bunga di monumen Marsekal Uni Soviet, Georgy Zhukov. Kremlin menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, Putin dan Khurelsukh akan membahas peluang untuk lebih meningkatkan hubungan kemitraan strategis antara Rusia dan Mongolia. Mereka juga akan berdialog mengenai isu-isu internasional dan regional yang tengah berkembang saat ini. Meski ada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh ICC, otoritas Mongolia tidak menunjukkan niat untuk menindaklanjutinya. Sebaliknya, mereka mengadakan upacara penyambutan untuk Putin di Bandara Ulan Bator dengan penghormatan dari pasukan kehormatan. Agenda Putin di Mongolia juga mencakup pembicaraan dengan ketua parlemen, Dashzegve Amarbayasgalan, serta Perdana Menteri Luvsannamsrain Oyun-Erdene. Pada 17 Maret 2023, ICC yang berlokasi di Den Haag mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Putin. Surat perintah ini merupakan hasil dari permintaan jaksa Karim Khan, yang menuduh Putin melakukan deportasi ilegal anak-anak dari Ukraina setelah dimulainya operasi militer khusus pada Februari 2022. Kendati demikian, Rusia membantah semua tuduhan tersebut. Mereka berdalih bahwa anak-anak tersebut dievakuasi untuk menyelamatkan nyawa mereka dari zona pertempuran. Rusia juga mengklaim bahwa surat perintah ICC tidak berlaku baginya, karena negara tersebut bukan anggota dari pengadilan internasional tersebut. ANTARA