JAKARTA –
**Borneonews - Badung**, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan kembali tekad bangsa ini untuk menjalin kemitraan yang lebih erat dengan negara-negara Afrika dalam hal pembangunan. Penegasan ini disampaikan selama penyelenggaraan Forum Indonesia-Afrika (IAF) yang kedua di Badung, Bali, yang berlangsung pada hari Selasa. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Siti Nugraha Mauludiah, mengungkapkan bahwa kerja sama pembangunan yang dijalin dengan Afrika harus selaras dengan agenda pembangunan global serta rencana pembangunan Afrika menuju tahun 2063. Dalam sambutannya di Panel VI forum tersebut, Siti menekankan bahwa Indonesia berharap dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan masyarakat di Indonesia, tetapi juga negara-negara Afrika. Siti menyatakan, "Kesejahteraan bersama merupakan pilar utama yang harus kita dorong. Melalui pembangunan berkelanjutan, kita dapat memperkuat kolaborasi dan memastikan pertumbuhan serta ketahanan ekonomi bagi kedua kawasan," ujarnya. Lebih lanjut, Siti menjelaskan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai dasar dalam upaya kerja sama ini, seperti saling menghormati, inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan. Nilai-nilai ini diharapkan dapat menjembatani kepentingan dan prioritas kedua belah pihak dalam rangka mencapai tujuan yang sama. "Sesuai dengan semangat Bandung, Indonesia berkomitmen untuk menjalankan kerja sama yang saling menguntungkan, di mana Afrika diperlakukan sebagai mitra yang setara," tambahnya. Siti juga menggarisbawahi bahwa dukungan Indonesia dalam mencapai tujuan tersebut akan terintegrasi dengan agenda Afrika 2063 melalui langkah-langkah strategis yang berdampak. Semua ini akan dikoordinasikan di bawah naungan Badan Pembangunan Internasional. Dalam upaya menjadi mitra utama bagi Afrika, Indonesia terus mencari peluang kerja sama di berbagai sektor seperti energi, mineral, kesehatan, pertanian, pendidikan, pengembangan masyarakat, dan infrastruktur. Siti menjelaskan bahwa pemilihan sektor-sektor ini didasarkan pada diskusi menyeluruh antara Indonesia dengan negara mitra di Afrika, bukan hanya keputusan sepihak. Dia meyakini bahwa dengan pendekatan yang tepat, praktik pembangunan tersebut akan meningkatkan efektivitas partisipasi Indonesia di Afrika. Mengenai tantangan yang dihadapi dalam proses kerja sama ini, Siti menyoroti pentingnya pembangunan kapasitas yang dilakukan oleh Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia telah mendirikan Kerja Sama Pembangunan Internasional pada tahun 2019, serta menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga seperti Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), Bank Dunia, Islamic Development Bank (ISDB), dan mitra pembangunan lainnya. Forum Indonesia-Afrika yang kedua berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 September 2024, secara bersamaan dengan Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multipihak (HLF-MSP). Mengusung tema "Bandung Spirit untuk Agenda 2063 Afrika," Indonesia bertujuan untuk menjadikan nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 sebagai pijakan dalam membangun kerja sama masa depan dengan negara-negara Afrika. Sejumlah bidang kerja sama yang akan menjadi prioritas dalam forum ini mencakup transformasi ekonomi, energi, pertambangan, ketahanan pangan, kesehatan, serta pembangunan. Dari forum ini, diharapkan akan tercapai beberapa hasil konkret, antara lain perjanjian antara pemerintah (G-to-G), kesepakatan bisnis (G-to-B dan B-to-B), serta *Grand Design* pembangunan Indonesia dan Afrika, termasuk kerja sama dengan negara ketiga melalui *triangular cooperation*. Target dari kesepakatan bisnis ini adalah mencapai nilai hingga 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp54,69 triliun). ANTARA