**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengajak para ahli keselamatan dan kesehatan kerja (*K3*) untuk memberikan perhatian yang lebih mendalam terhadap berbagai isu yang menyangkut keselamatan kerja. Salah satu masalah yang cukup mencolok adalah tingginya angka kecelakaan kerja yang masih terjadi di Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3, Fahrurozi, menyatakan bahwa salah satu langkah yang diambil untuk menanggulangi meningkatnya kecelakaan kerja adalah dengan meningkatkan kompetensi para ahli K3. Dalam penjelasannya di Jakarta, Fahrurozi menyampaikan bahwa kesempatan untuk meningkatkan keahlian ini sangat penting, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan terkait keselamatan kerja.
Dalam konteks internasional, Fahrurozi mengungkapkan bahwa isu K3 mendapatkan sorotan pada forum G20 yang diadakan di Fortaleza, Brasil, bulan Juli 2024. Dalam forum tersebut, disampaikan pentingnya menemukan pendekatan baru untuk pelaksanaan K3, sejalan dengan dampak perubahan iklim global yang semakin mendesak. Ia menegaskan bahwa tantangan ke depan akan jadi semakin kompleks, terutama untuk mereka yang bekerja di luar ruang yang menghadapi risiko lebih tinggi.
Lebih lanjut, Fahrurozi menyebutkan bahwa pelatihan dalam peningkatan keahlian K3 menjadi sangat vital untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka yang terlibat dalam bidang ini. Ahli K3 perlu memiliki rencana mitigasi yang jelas agar isu keselamatan yang dikemukakan saat ini dapat menjadi perhatian yang serius bagi semua pihak.
Untuk menanggulangi kecelakaan kerja, sangat penting untuk tidak mengulangi pendekatan atau narasi yang digunakan sebelumnya. Di Jakarta, Kemnaker telah menyelenggarakan acara "Peningkatan Kompetensi Ahli K3 TA 2024" pada hari Kamis, 29 Agustus lalu, yang bertujuan untuk mencapai 50 persen dari target peserta yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Ditjen Binwasnaker dan K3, yaitu sebanyak 16.230 peserta dari total 32.460 yang direncanakan. Pelatihan ini telah memasuki angkatan kelima dari delapan angkatan yang akan dilaksanakan hingga November 2024.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Satu Data Kemnaker, yang bersumber dari BPJS Ketenagakerjaan, tercatat bahwa pada tahun 2023, jumlah kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 370.747 kasus. Dari angka tersebut, sekitar 93,83 persen adalah kasus yang melibatkan pekerja penerima upah, sementara 5,37 persen merupakan kasus pekerja bukan penerima upah, dan 0,80 persen melibatkan pekerja di sektor jasa konstruksi.
Selanjutnya, pada periode Januari hingga Mei 2024, data menunjukkan bahwa telah terjadi 162.327 kasus kecelakaan kerja. Rincian dari angka ini menunjukkan bahwa 91,83 persen kasus melibatkan pekerja penerima upah, 7,26 persen adalah pekerja non-penerima upah, serta 0,91 persen berhubungan dengan peserta dari sektor jasa konstruksi. Dengan situasi ini, upaya untuk mengurangi kecelakaan kerja tetap menjadi prioritas utama bagi Kemnaker dan semua pemangku kepentingan terkait.
ANTARA
Kemnaker Tingkatkan Kompetensi Ahli K3, Atasi Kecelakaan Kerja
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Gubernur Kalteng Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Perdamaian
Korban Karhutla Bromo Kembali Meninggal Dunia di RSUD Dr Soetomo
Kemendikdasmen Beri Fleksibilitas Susulan TKA untuk Wilayah Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







