**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga cabai di pasar domestik. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan petani Champion, yang berfungsi untuk menjamin ketersediaan pasokan cabai di setiap daerah yang menghadapi defisit produksi.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementan, Ali Jamil, menyatakan bahwa keberadaan petani Champion sangat penting. Mereka diharapkan dapat berperan aktif dalam membantu petani lain, termasuk dalam penyediaan bibit dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (*OPT*). Hal ini diungkapkan oleh Ali dalam sebuah acara di Jakarta.
Petani Champion adalah sekumpulan petani yang didukung oleh Kementan dan Dinas Pertanian setempat. Tugas mereka meliputi pengaturan pola tanam serta pelaksanaan koordinasi terkait penanaman cabai di wilayah masing-masing. Ali lebih lanjut menjelaskan bahwa peran petani Champion tidak hanya terbatas pada koordinasi, tetapi juga dalam menjaga semangat bercocok tanam di masyarakat. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlangsungan pasokan cabai di tingkat nasional.
Penjelasan lebih lanjut datang dari Plt Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, yang menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dengan petani Champion telah berjalan dengan baik. Ini memungkinkan para petani untuk dengan cepat memenuhi kebutuhan distribusi cabai di wilayah yang kurang pasokan ketika diperlukan.
Petani Champion berperan dalam menangani kekurangan produksi, sehingga ketika ada lonjakan harga, pasokan cabai dari mereka bisa segera disediakan, jelasnya.
Kementan juga mengambil langkah tambahan untuk menjaga harga cabai tetap stabil di pasar. Ini meliputi pengembangan fasilitas pembibitan (*nursery*) dan pembentukan kawasan penyangga khusus untuk cabai.
Dalam rangka memastikan ketersediaan cabai, Kementan telah menjamin bahwa pasokan cabai secara nasional akan aman hingga akhir tahun 2024. Mereka telah memproyeksikan kebutuhan tahunan masyarakat, sehingga dapat lebih mudah dalam perencanaan produksi.
Dengan adanya sistem peringatan dini (*early warning system*) yang telah diterapkan, Kementan dapat memperkirakan kebutuhan konsumsi cabai masyarakat yang mencapai 1,17 juta ton per tahun. Di sisi lain, kapasitas produksi para petani di Indonesia diperkirakan mencapai 3 juta ton per tahun. Dengan demikian, secara keseluruhan, ketersediaan cabai dalam negeri mengalami surplus hingga 500 ribu ton per tahun.
Melalui berbagai upaya ini, Kementan berharap dapat menjaga stabilitas harga dan memastikan bahwa pasokan cabai tetap terjaga demi kesejahteraan masyarakat.
ANTARA
Upaya Kementan Jaga Stabilitas Harga Cabai Melalui Petani Champion
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ribuan Pesepak Bola Muda Perebutkan Piala Ketua DPD RI
Trae Young Targetkan Wizards Bersaing ke playoff NBA
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Komentar (0)
Memuat komentar…







