BORNEONEWS, Palangka Raya - Kota CANTIK (Terencana, Aman, Nyaman, Tertib, Indah, dan Keterbukaan) adalah motto yang menjadi platform Kota Palangka Raya. Pemerintah kota (Pemkot) Palangka Raya pun memiliki visi-misi yang berisi tiga hal, yaitu pendidikan, jasa, dan pariwisata.
Lalu bagaimana gerakan Pemkot untuk mewujudkan Kota Cantik sebagai Kota Pendidikan, Kota Jasa, dan Kota Pariwisata dalam perjalanan ke-59 tahun-nya saat ini?
Berikut petikan wawancara Borneonews dengan Wakil Walikota Palangka Raya.
Jika di-review perjalanan Pemkot dalam mewujudkan tiga visi misinya, sejauh mana gambaran sekarang? Dan apa yang perlu dikoreksi untuk perbaikan ke depan?
Pertama, bidang jasa. Kita sudah mengarah pada bagaimana sektor-sektor jasa ini berkembang dengan pesat. Yaitu dengan mempermudah perizinan, mempercepat layanan ijin dengan sentuhan aplikasi atau teknologi, walaupun belum semuanya kita lakukan. Saya bermimpi pada masa akan datang lebih smart lagi dalam proses perizinan ini.
Bidang Pendidikan, apakah sudah sudah yang diharapkan?
Kita masih tetap harus ada yang dibenahi. Kemarin kita melakukan langkah cukup berani, dengan membuka peluang semua peserta didik di Kalteng untuk bisa belajar di Palangka Raya ini. Mulai tingkat SD hingga SMA/SMK, tapi dengan cara berkompetisi. Kita tidak membatasi lagi berapa persentase lulusan dari luar Palangka Raya tetapi silahkan bersaing. Sarana prasarana juga ditingkatkan, khususnya yang masih menjadi kewenangan Pemkot Palangka Raya. Ini berkaitan dengan wacana kewenangan SMA/SMK yang diwacanakan diambil provinsi sesuai perintah UU.
Selanjutnya untuk bidang pariwisata, masih banyak yang harus kita poles. Karena terus terang saja bahwa kita selama ini lebih mengandalkan resource tourism atau mengandalkan sumber daya alam (SDA). Padahal tidak semua tempat-tempat di wilayah Palangka Raya ini dalam kategori indah sepanjang tahun, tetapi dalam waktu-waktu secara parsial. Misalnya di bantaran sungai, itu indah apabila saat air pasang atau penghujan. Tetapi saat kemarau atau surut, beberapa bagian justru kurang menarik. Kita akan gunakan kesempatan ini (pasag) dengan promosi wisata air sungai.
Lalu upaya yang lainnya?
“Yang lainnya,, kita akan mulai berbenah untuk artificial destination tourism. Jadi kita membuat tempat wisata baru seperti Water Front City bantaran Sungai Kahayan di Flamboyan Bawah itu. Perkembangan terakhir, sudah ada pembicaraan dengan Pemprov tentang percepatan Water Front City yang digagas Pemkot. Memang pada 2016 ini masih stagnan pembangunannya untuk sementara tetapi 2017 akan dilanjutkan lagi. (RZ)
Khusus bidang Pariwisata, petikan wawancara Borneonews dengan Walikota Palangka Raya Riban Satia dan Ketua DPRD Palangka Raya Sigit Karyawan Yunianto sebagai berikut;
Sejauh ini perkembangan Water Front City, kabarnya sudah ada pembebasan lahan?
RIBAN: Sudah sebagian, karena tidak bisa langsung. Kemudian juga harus dipadupadankan dengan yang Pahandut seberang, jangan sampai hanya yang sisi sebelah sini, tetapi seberangnya tidak diperhatikan.
Konsep pembangunan pariwisata ke depan?
RIBAN : Kita harus pertahankan aset budaya dan kearifan lokal. Itu yang kita jual, ambil dipoles sedikit agar menarik. Di Flamboyan bawah yang Water Front City itu, nantinya rumah penduduk ada yang dipertahankan aslinya, tetapi dipoles. Misalnya rumah warga harus bercirikan adat, ditambah ornamen yang seragam, jadi nuansa khasnya itu ada.
Berikutnya yang di Dermaga DLLAJ Kereng Bengkirai itu juga harus begitu, pemerintah akan poles rumah panggungnya dengan ornamen khas Kalteng. Di sana merupakan wisata danau air hitam yang tidak semua tempat di dunia ada seperti itu. Banyak tempat lain wisata kita yang belum tergarap maksimal, karena menyesuaikan anggaran kita.
Sebagai catatan, wisata buatan berkonsep Water Front City saat ini dilakukan pembebasan lahan yang sekarang berderet rumah lanting dan rumah panggung. Sasaran pembebesan pertama adalah 50 meter dari kiri dermaga flamboyan bawah (kearah Jemabatan Kahayan) dan juga sepanjang 50 meter ke kanan (kearah Dermaga Rambang). Tahun berikutnya, pembebasan lahan menyasar ke arah darat,dengan target 100 eter dari bibir sungaikahayan bebas dari permukiman penduduk.
Sosialisasi terkait hal ini sudah lama dilakukan. Diantaranya oleh pihak Kecamatan Pahandut. “Yang dibebaskan sementara 50 meter kanan kiri, tahun depan melanjutkan yang mundur 100 meter dari bibir sungai. Yang dibebaskan adalah rumahnya, bukan tanahnya karena itu tanah negara. Tiap rumah warga dihargai berbeda tergantung luasan dan material yang itu semua bukan kami yang hitung tetapi pihak apraisal (penilai). Pos anggarannya disediakan di dinas cipta karya tata ruang dan perumahan, ” tutur Camat Pahandut, Abramsyah kepada Borneonews.
Lantas bagaimana Tanggapan Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Sigit K Yunianto atas capaian Pemkot?
SIGIT : Banyak sektor yang harus ditingkatkan oleh Pemkot dan banyak hal yang perlu dikaji pengembangannya oleh leading sektor masing-masing. Antara lain peningkatan dukungan ke obyek wisata yang harus ditingkatkan.
Contohnya?
SIGIT : Pariwisata di sei gohong itu ketika saya cek, itu padahal bagus sekali dijadikan obyek wisata. Hanya saja fasilitas yang disediakan masih sangat minim sekali. Contohnya mereka kan mandi disana, masa kita kasih WC cuma satu. Terus penataannya belum maksimal, misalnya penataan warung bagaimana, penempatan untuk gazebonya bagaimana. Lalu misalnya lagi, diatas dibuatkan saringan air kan bisa, supaya air yang kebawah untuk mandinya pengunjung lebih bagus.
Menanggapi Water Front City?
SIGIT : Saat ini ada beberapa anggaran di APBD untuk kelanjutan Water Front City. Da APBD Perubahan nanti kita juga lihat apa yang direncanakan Pemkot. Tetapi disisi lain yang perlu digaris bawahi ketika menggusur pemukiman warga disitu, harus dilihat lah masalah dampak sosialnya. Disana kan banyak warga yang tinggal, kasihan kalau di gusur tapi tidak atau tanpa solusi.
Hal lainnya?
SIGIT: Pemkot harus pandai menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang baru. Kedua, layanan jasa-saja harus dikaji lagi. Dan masalah aset, bagaimana agar yang kita miliki ini menghasilkan PAD. Sedangkan hal lain misalnya dalam hal pendidikan, dihadapkan permasalahan wacana pengalihan kewenangan SMA ke provinsi. Yang kita lihat adalah masalah asetnya, itu kan milik kita, lalu bagaimana masalah kepegawaiannya atau gurunya, itu kan ribet.
Bagaiamana Kesan Gubernur baru Kalteng, Sugianto Sabran?
Pemkot Didorong Bangkitkan Ekonomi
Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mendorong pemerintah kota (Pemkot) Palangka Raya membangun ekonominya agar semakin baik. Ia ingin ibu Kota Kalteng ini, konominya bangkit dari kondisi saat ini, dengan cara banyak menggali potensi yang dimiliki oleh Bumi Isen Mulang ini.
Tidak hanya mendorong bangkit, Gubernur bahkan menawarkan jalan dan sejumlah peluang yang bisa dikembangkan oleh Walikota Riban Satia dan jajarannya. Karena menurut Gubernur Sugianto, dana-dana pemerintah sebenarnya cukup banyak. Hanya saja pemanfaatannya saja yang menurut dia tidak fokus pada target.
“Apa yang ingin dikembangkan Pemkot ini, ayo bilang. Misalnya pertanian, berapa hektar yang disiapkan? mau tanaman apa yang dijadikan komoditas andalan, sampaikan. Kemarin Walikota dan Wakil Walikota cerita ada 1000 hektare lahan, mau buat pertanian atau peternakan sapi silahkan, kita siapkan karena kita siap sinergi. Saya ingin agar ekonomi Kota Palangka Raya ini bangkit,”
Kedua, Sugianto melirik Bundaran Besar. Ia ingin maskot Ibu Kota yang saat ini masih menjadi kewenangan Pemkot itu, ditata ulang agar mencirikan Kalteng yang sesungguhnya. Karena itu, perlu didesain ulang, menampilkan sosok 14 kabupaten/kota yang ada di Bumi tambun Bungai.
Tidak itu saja, Sugianto juga menambahkan apabila bentuk sinergi juga akan diberikan dalam bentuk fisik. Misalnya bantuan pembangunan jalan, jembatan, dan drainase dalam kota. ”Masalah jalan, jembatan, dan lainnya akan kita bantu. Ini sinergi dalam kerangka membangunkan ekonomi tadi,” tuturnya. (ROZIKIN/m)








