JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian di Timur Tengah, Tor Wennesland, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap jumlah kematian warga sipil Palestina akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya pada Senin (2/9), ia menyoroti dampak signifikan dari serbuan ini terhadap kehidupan masyarakat sipil. Wennesland menyatakan, "Hari ini, saya kembali ke Gaza dan menyaksikan secara langsung betapa parahnya dampak dari serangan Israel. Skala kehancuran yang terjadi sangat besar, dan kebutuhan kemanusiaan semakin mendesak." Ia juga menekankan bahwa warga sipil terus menjadi pihak yang paling menderita akibat konflik yang berkepanjangan ini. Koordinator PBB tersebut mengutuk keras jumlah kematian sipil yang telah mencapai angka yang sangat tinggi di Gaza. Dalam kunjungannya ke pusat vaksinasi polio di wilayah tersebut, ia menambahkan, "Kembalinya penyakit ini merupakan ancaman serius bagi anak-anak di Jalur Gaza. Oleh karena itu, saya sangat mendukung adanya jeda kemanusiaan yang memungkinkan pelaksanaan kampanye vaksinasi." Pada Minggu (1/9), PBB telah meluncurkan kampanye vaksinasi polio untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun di Jalur Gaza. Hal ini dilakukan setelah penyakit polio terdeteksi kembali di wilayah tersebut untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Wennesland mengulangi seruannya kepada semua pihak terkait untuk segera melaksanakan gencatan senjata. Ia menjelaskan bahwa kesepakatan damai sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa, meredakan ketegangan di kawasan, dan memfasilitasi PBB, dalam kolaborasi dengan Otoritas Palestina, untuk mempercepat upaya pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakat di Gaza. Konflik yang berkepanjangan ini telah menimbulkan kehancuran bagi banyak keluarga, dan Wennesland menekankan bahwa situasi ini harus segera dihentikan. Menurut data dari otoritas kesehatan setempat, konflik ini telah merenggut lebih dari 40.700 jiwa warga Palestina, dengan mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak, serta lebih dari 94.100 orang mengalami luka-luka. Di tengah blokade yang masih berlangsung di wilayah Gaza, masyarakat menghadapi kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah, yang mengakibatkan kondisi kehidupan yang semakin sulit. ANTARA