**Borneonews - Jakarta**, Direktur Ekonomi Digital *Center of Economic and Law Studies* (Celios), Nailul Huda, menegaskan bahwa deflasi yang tercatat selama empat bulan berturut-turut di tahun 2024 menunjukkan adanya indikasi pelemahan daya beli masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa deflasi bulanan pada Agustus 2024 mencapai 0,03 persen. Namun, meskipun ada penurunan deflasi dari angka 0,08 persen pada Juli 2024, perekonomian masih menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,06.
Nailul menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan adanya tekanan pada sektor makanan, minuman, dan tembakau, di mana permintaan terhadap produk-produk tersebut menurun. Dampak dari kondisi ini dapat dilihat dari ketidakpuasan yang muncul di industri yang bergantung pada konsumsi masyarakat.
Deflasi yang terjadi sepanjang tahun 2024 dipicu oleh melemahnya permintaan di pasar, sementara suplai juga menunjukkan keterbatasan. Kapasitas produksi industri saat ini hanya mampu beroperasi sebesar 73,7 persen, menunjukkan masih adanya ruang untuk pengembangan.
Lebih lanjut, Nailul menyoroti dampak lemah daya beli yang berkelanjutan terhadap *Purchasing Managers' Index* (PMI) Manufaktur dan kapasitas produksi secara keseluruhan. Pada Agustus 2024, PMI Manufaktur mengalami kontraksi hingga mencapai 48,9 poin, turun 0,4 poin jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Dalam analisisnya, Nailul membandingkan situasi saat ini dengan krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008-2009 dan dampak pandemi COVID-19 di tahun 2020-2021. Deflasi di masa lalu lebih diakibatkan oleh faktor eksternal, sementara saat ini, ia menggambarkan deflasi sebagai hasil dari kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak dan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen.
Ia juga mengingatkan bahwa langkah-langkah kebijakan fiskal pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kenaikan harga BBM dan PPN, dapat memperburuk daya beli masyarakat, khususnya bagi kelompok menengah yang saat ini sudah berada dalam kondisi yang tertekan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat mungkin akan mulai menggunakan tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar, yang selanjutnya dapat berakibat lebih serius bagi stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, inflasi inti atau *core inflation* yang terpantau besarnya hanya mencapai 1,52 persen secara kalender berjalan di Agustus 2024 juga menunjukkan adanya kekhawatiran besar. Celios memperlihatkan bahwa jika tren melemahnya daya beli terus berlanjut, hal itu dapat berdampak luas pada sektor ekonomi secara keseluruhan. Dalam pandangan Nailul, peningkatan PPN yang direncanakan dapat berpotensi menyebabkan inflasi meningkat pada tahun 2025.
Selain itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers baru-baru ini, menilai fenomena deflasi yang terjadi selama empat bulan tersebut disebabkan oleh faktor suplai yang melimpah. Namun, ia juga menyatakan pentingnya melakukan kajian lebih lanjut terkait dampak dari pelemahan daya beli masyarakat.
Pudji menambahkan bahwa penurunan harga pangan, terutama dari produk hortikultura dan peternakan, saat ini berkontribusi pada tren deflasi. Penurunan harga pangan ini diakibatkan oleh meredanya biaya produksi, serta waktu panen raya yang sedang berlangsung, yang semuanya memberikan dampak positif bagi penurunan harga di tingkat konsumen.
ANTARA
Deflasi Beruntun 2024 Tunjukkan Pelemahan Daya Beli Masyarakat
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Komentar (0)
Memuat komentar…







