**Borneonews - Badung, Bali**, Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury mengungkapkan bahwa perjanjian bisnis antara Indonesia dan negara-negara Afrika yang terjalin selama berlangsungnya Indonesia-Africa Forum (IAF) dan High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) dapat mencapai nilai yang signifikan, yaitu sekitar 3,5 miliar dolar AS atau diperkirakan sekitar Rp55 triliun.
Dalam konferensi pers yang diadakan pada tanggal 3 September 2024, Pahala menjelaskan bahwa saat ini nilai total perjanjian yang telah dicapai berada di angka 2,95 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp45,8 triliun. Ia optimis bahwa pada akhir bulan September nanti, total nilai tersebut dapat melampaui angka yang ditargetkan.
Sebagian besar kesepakatan yang telah dicapai dilakukan selama pelaksanaan IAF dan HLF MSP yang berlangsung dari 1 hingga 3 September 2024. Beberapa bidang kerja sama yang menjadi fokus utama adalah optimalisasi rantai pasokan gas untuk digunakan sebagai pupuk dan amonia, serta proyek *upstream* di sektor minyak dan gas.
Pahala juga menyampaikan bahwa setelah rangkaian acara IAF dan HLF MSP, sejumlah pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya akan menuju tahap kesepakatan, dan diharapkan dapat diselesaikan hingga pertengahan bulan September. Hal ini dapat meningkatkan nilai total perjanjian menjadi sekitar Rp55-56 triliun.
Dengan optimisme yang tinggi, Pahala menyatakan bahwa upaya kolektif ini akan terus berlanjut, dengan harapan bahwa berbagai peluang yang baru akan teridentifikasi dalam waktu dekat. "Kita terus kumpulkan, diperkirakan nanti sampai dengan pertengahan bulan September menuju ke akhir bulan September dengan beberapa tambahan kesempatan yang sudah kita jajaki saat ini," ujarnya.
Di samping penandatanganan kerja sama bisnis, Indonesia juga menegaskan komitmen untuk meningkatkan hubungan strategis dengan Afrika Selatan. Hal ini termasuk dalam penyusunan rencana aksi kemitraan strategis yang akan berlaku dari tahun 2024 hingga 2029. Ada pula inisiatif untuk meningkatkan hubungan bisnis melalui penghapusan visa bagi pemegang paspor dan eksplorasi mengenai *Preferential Trade Agreement* (PTA).
Pahala menambahkan, ia baru saja mengadakan pertemuan dengan anggota *East Africa Community* (EAC) yang berfokus pada pengembangan integrasi ekonomi di kawasan Afrika Timur. EAC saat ini memiliki delapan negara anggota, dengan harapan bahwa jumlah ini akan bertambah menjadi 15 anggota di masa depan.
Menurut catatan Kementerian Keuangan, nilai perdagangan antara Indonesia dan EAC saat ini mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS, yang dalam rupiah setara dengan Rp18,6 triliun. Capaian tersebut diharapkan akan meningkat melalui pemanfaatan PTA. "Kita berharap tentunya kita akan bisa mendapatkan manfaat dengan meningkatnya produk-produk kita termasuk produk kesehatan, pangan dan juga produk di sektor lain seperti misalnya tekstil dan juga garmen," kata Pahala.
ANTARA
Perjanjian Bisnis Indonesia-Afrika Capai Rp55 Triliun di IAF
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Komentar (0)
Memuat komentar…







