SURABAYA –
**Borneonews - Kediri**, Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, menegaskan bahwa isu mengenai kemiskinan tidak menjadi penyebab terjadinya dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap dua anaknya. Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Paulus Luhur Budi Prasetya, menyampaikan bahwa tim reaksi cepat (TRC) telah menyusun laporan mengenai situasi keluarga ID, ibu yang terlibat dalam kasus tragis ini. Melalui hasil penelusuran, pihaknya menemukan bahwa ibu tersebut tidak termasuk dalam kategori orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) yang mendapatkan pendampingan dari Dinas Sosial. "Ibu tersebut tidak terdaftar dalam program kami. Kami pernah menawarkan untuk dirawat secara medis dengan merujuknya ke rumah sakit, namun ia menolak. Emosinya seringkali tidak stabil, sehingga kami tidak dapat memberikan pelayanan yang diperlukan. Ia lebih cenderung memilih pengobatan nonmedis," ujar Paulus. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, kondisi emosional ibu tersebut fluktuatif, kadang-kadang mengalami gejolak emosi yang tinggi. Relawan yang menawarkan bantuan untuk pengobatan juga ditolak, dan interaksi dengan suaminya pun tidak berjalan lancar. Meski demikian, ia mengakui bahwa keluarga ID terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan yang bersangkutan merupakan penerima program Keluarga Harapan (PKH). "Kami memeriksa data DTKS, dan mereka tercatat sebagai penerima bantuan. Ini menunjukkan bahwa faktor kemiskinan bukanlah penyebab utama, namun lebih kepada masalah depresi yang dialami ibu tersebut," tambahnya. Pihak Dinas Sosial juga telah melaporkan situasi ini kepada pimpinan untuk mendapatkan arahan lebih lanjut, termasuk tentang kemungkinan santunan untuk kematian. "Situasi ini sudah kami laporkan kepada pimpinan dan kami sedang menunggu instruksi mengenai langkah selanjutnya. Jika mereka terdaftar dalam DTKS, kami harap mereka bisa mendapatkan santunan kematian," ungkapnya. Sebelumnya, sebuah insiden terjadi pada Selasa dini hari, di mana seorang ibu berinisial ID diduga telah menghabisi kedua anaknya. Suami ID mendengar suara rintihan dari anaknya dan terbangun untuk menemukan istrinya memegang parang, sementara anak-anaknya terluka parah. Suami segera membuang parang, mengamankan anak-anaknya, dan melaporkan peristiwa tersebut kepada saudara dan pihak berwenang. Sayangnya, kedua anak kandung pekerja tersebut, yaitu Muhammad Balya yang berusia 14 tahun dan Binti yang berumur 7 tahun, dilaporkan meninggal dengan luka di kepala. Jenazah kedua korban dibawa oleh polisi ke RS Bhayangkara Kediri untuk otopsi. Sementara itu, kedua orang tua korban diamankan di Polres Kediri Kota untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses otopsi pun telah selesai dan jenazah diserahkan kembali kepada keluarga untuk kemudian segera di makamkan. Hingga saat ini, lokasi rumah duka di Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota, Kediri, masih dipasang garis polisi dan akses ke area tersebut dibatasi bagi orang yang tidak berkepentingan. Rumah pelaku terletak berdekatan dengan dua lembaga pendidikan, yaitu madrasah ibtidaiyah (setingkat SD) dan taman kanak-kanak. Akibat insiden ini, kedua institusi pendidikan terpaksa meliburkan siswa-siswanya. ANTARA