BORNEONEWS, Nanga Bulik - Delapan orang diduga keracunan minuman jenis es buah saat menghadiri acara syukuran rumah baru Yayuk, di Jalan WR Supratman, Nanga Bulik.

Hety Utami, 31, seorang korban keracunan mengaku awalnya ia tak menyangka keracunan. Ia juga mengaku memang meneguk es Buah sebanyak dua gelas saat hadir di acara syukuran itu.

"Acaranya kan habis Jum'atan, saat itu cuaca juga panas dan saya saat itu memang haus, saya minum dua gelas," tuturnya kepada Borneonews, di ruang rawat inap RSUD kelas I, Jum'at (15/7/2016), petang.

Dia juga menceritakan, sebelum merasakan gejala pusing, mual dan sakit perut, awalnya kaget mendengar anaknya yang bernama Quintara (6) mengeluhkan rasa kantuk dan tampak pucat. Kala itu kejadiannya sekitar 10 menit setelah minum es buah yang dihidangkan tuan rumah.

"Awalnya saya heran, kenapa anak saya mengeluh ngantuk, kemudian tak lama ngeluh mual. Tapi beberapa saat kemudian saya merasa pusing dan mual juga. Saat itu saya nggak punya pikiran apapun. Tapi justru saya baru sadar bahwa anak saya bukan ngantuk tapi mungkin pusing," ujarnya.

Dia juga menambahkan, karabatnya yang mengundang syukuran itu merupakan pegawai di Disperindagkop, sama dengan dirinya. Sepengetahuannya juga, yang mengalami dugaan keracunan pun diakuinya merupakan para anggota keluarga yang memang bekerja di Disperindagkop, seperti halnya Kabid Koperasi, Lanie. Termasuk dua pelajar SMK yang magang di Disperindagkop yang juga hadir di acara syukuran.

Saat itu, Hety mengaku masih merasa lemas meskipun telah diinfus dan minum obat dari petugas RSUD.

"Mungkin saya masih lemas karena tadi minumnya banyak, dan yang termuntahkan baru sedikit," cetusnya sambil senyum.

Di tempat terpisah, dr. Christina, mengatakan pihaknya saat ini baru bisa menduga bahwa para pasien tersebut keracunan makanan. Meski disisi lain pihaknya tidak bisa memastikan kadar racun seperti apa yang menjadi penyebab. Terlebih lagi, selain tidak ada sampel yang pihaknya dapatkan, RSUD juga masih terkendala peralatan medis dan fasilitas RSUD seperti halnya laboratorium.

"Kita (RSUD) kan belum punya Lab (laboratorium) jadi kami tidak bisa meneliti kadar atau zat apa yang terkandung dalam es buah itu. Kita hanya mencari tahu kronologis dan keluhan pasien saja," sebutnya.

Ia juga memprediksi bahwa para pasien tidak mengalami keracunan berbahaya, hanya perlu dinetralisir saja, tukasnya. (HENDI NURDALAH)