**Borneonews - Banjarmasin**, Dosen muda berprestasi dari Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, yang dikenal sebagai salah satu penyelamat *bekantan*, spesies endemik Pulau Kalimantan, baru saja berbicara mengenai proyek solusi berbasis alam di Malaysia. Hal ini terjadi dalam acara Forum Atmos Talk 2024 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur.
Melalui forum ini, Amalia berharap bahwa dapat muncul berbagai solusi yang efektif dalam upaya mitigasi perubahan iklim global, dengan fokus khusus pada sektor kehutanan yang berbasis lahan. Menurut Amelia, diskusi seperti ini penting untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini.
Forum internasional yang mengangkat tema "Insight From Nature Based Solution Project in Malaysia and Opportunities for Climate Technology" tersebut menjadi wadah bagi para peserta untuk membahas pendekatan kolaboratif dari program restorasi *mangrove* dan konservasi keanekaragaman hayati yang dilaksanakan di Kalimantan Selatan. Amalia menekankan bahwa urbanisasi dan pembangunan yang cepat di Asia Tenggara berdampak signifikan terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada.
Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa pembangunan infrastruktur, baik secara langsung dengan mengubah penggunaan lahan hutan, maupun secara tidak langsung melalui konsekuensi dari jejak ekologis, sangat mempengaruhi kondisi alam. Lebih lanjut, Amalia menggarisbawahi pentingnya mengatasi tantangan sosial-ecologis global, termasuk krisis terkait iklim dan keanekaragaman hayati.
Transformasi yang diperlukan di Asia Tenggara sangat mendesak untuk mengatasi perubahan iklim, sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi yang positif, ungkapnya.
Acara Forum Atmos Talk 2024 diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, berkolaborasi dengan Fairatmos, sebuah perusahaan terkemuka di bidang teknologi iklim di kawasan tersebut.
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono, menyampaikan terima kasih kepada Amalia Rezeki atas kehadirannya sebagai narasumber dalam diskusi ini. Dia juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya Amalia dalam melestarikan *bekantan* (Nasalis larvatus) serta upaya pemulihan ekosistem yang dilakukan, terutama di ekosistem lahan basah *mangrove* riparian.
Amelia adalah pegiat lingkungan yang telah berhasil dalam program restorasi *mangrove* di kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang merupakan habitat *bekantan* di luar kawasan konservasi, jelasnya.
Dalam forum ini, sejumlah pembicara terkemuka juga turut berpartisipasi. Salah satunya adalah Dr. Hartini binti Nasir, Wakil Menteri Bidang Perubahan Iklim Kementerian Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup Malaysia serta Natalia Rialucky, CEO dan Pendiri Fairatmos.
Di kalangan akademisi, selain Amalia, hadir pula Prof. Azlizam Azis, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Putra Malaysia. Dari sektor profesional, terdapat Dr. Wei-nee Chen dari Bursa Carbon Exchange, Dr. Renard Siee dari Yinson Holdings Berhad, serta Tan Sri Nazir Razak, Ketua Dewan Bisnis Malaysia Indonesia.
ANTARA
Dosen ULM Amalia Rezeki Bahas Solusi Alam Mitigasi Iklim di Malaysia
Bagikan:

BANJARMASIN –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Rian/Daniel ke Final Kudus Indonesia Masters Usai Menang Tiga Gim
Kemnaker Umumkan Syarat dan Cara Daftar Pelatihan Vokasi Korban PHK
MILLS Luncurkan Koleksi Musim Panas 2027 Bertajuk Next Inheritance
Pangkoops: Dua Anggota KKB Tewas Saat Kontak Tembak di Nduga
Polisi Selidiki Pesawat Asian One Air Tergelincir di Intan Jaya
Presiden Iran Akan Bahas Ekonomi, Isu Global dengan Putin
Komentar (0)
Memuat komentar…







