**Borneonews - Badung**, Direktur Promosi untuk wilayah Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika dari Kementerian Investasi/BKPM, Cahyo Purnomo, menyatakan keyakinannya bahwa ASEAN akan terus menjadi destinasi investasi yang bebas dan terbuka. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sesi *High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships* (HLF MSP) 2024 yang berlangsung di Badung, Bali, pada hari Selasa.
Cahyo mengakui bahwa meskipun terdapat tantangan politik dan ekonomi di Indonesia dan di kawasan ASEAN, langkah-langkah masih diambil untuk memastikan bahwa ASEAN tetap sebagai tempat yang menarik bagi investasi. Ia menekankan pentingnya pengembangan strategi investasi yang cerdas, terutama dalam menghadapi tantangan global yang sedang berlangsung. Strategi ini diharapkan dapat membantu dalam mengoptimalkan hasil investasi.
Dalam diskusi yang bertema Unlocking Growth: Overcoming Barriers and Optimizing Investment Returns through Smart Outbound-Inbound Strategies, Cahyo menggarisbawahi bahwa sejumlah negara di belahan Selatan dunia telah menunjukkan peningkatan dalam peran mereka dalam aliran modal global. Hal ini terlihat dari pertumbuhan signifikan investasi asing langsung yang melibatkan negara-negara tersebut.
Meski secara global, *Foreign Direct Investment* (FDI) mengalami penurunan sebesar 2 persen dengan total mencapai 1,3 triliun dolar AS pada tahun lalu, Asia Tenggara justru mencatatkan peningkatan 1,3 persen dengan total FDI mencapai 226 miliar dolar AS. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan secara umum, kawasan ini mampu bertahan dan menunjukkan pertumbuhan.
Berdasarkan laporan *World Investment Report*, pada tahun 2022, negara-negara maju menyuplai sekitar 1 triliun dolar AS dalam bentuk FDI. Sementara itu, negara-negara berkembang dan kurang berkembang hanya menerima total sekitar 400 juta dolar AS. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam arus investasi global, di mana mayoritas FDI masih diserap oleh negara-negara maju, dengan hanya 23 persen yang mengalir ke kawasan Asia-Pasifik.
Tren ini juga mencatatkan bahwa investasi dari negara-negara berkembang seringkali mengalir ke negara-negara kuat di belahan Selatan ataupun negara-negara maju di belahan Utara, yang pada gilirannya memperparah kesenjangan antara kedua belahan tersebut. Di samping itu, tantangan seperti kualitas demografi, infrastruktur yang tidak memadai, dan minimnya dukungan bagi investasi asing juga menjadi hambatan bagi negara berkembang dan kurang berkembang dalam meraih distribusi investasi yang lebih baik.
Melihat situasi ini, diperlukan perubahan dalam pola investasi untuk memfasilitasi akses yang lebih luas bagi semua pihak, sembari tetap mengutamakan hasil yang optimal serta ketahanan terhadap fluktuasi ekonomi global. Negara-negara di kawasan Selatan juga didorong untuk menciptakan kondisi domestik yang lebih baik agar dapat menarik lebih banyak investasi asing.
ANTARA
ASEAN Jadi Destinasi Investasi Terbuka di Tengah Tantangan Global
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Komentar (0)
Memuat komentar…







