YOGYAKARTA –
**Borneonews - Sleman**, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sleman, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, melaporkan bahwa angka kemiskinan di daerah ini mengalami penurunan sebesar 0,06 persen pada Maret 2024. Penurunan ini dipicu oleh rendahnya daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan. Ketua Tim Statistik Ketahanan Sosial BPS Sleman, Paulus Henri Laksono, menjelaskan bahwa pada Maret 2024, persentase penduduk miskin berada di angka 7,46 persen. Sebelumnya, pada Maret 2023, angka kemiskinan tercatat sebesar 7,52 persen, menunjukkan adanya penurunan meskipun sangat marginal. Henri menambahkan bahwa garis kemiskinan pada Maret 2024 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Maret 2023. Garis kemiskinan tahun ini ditetapkan sebesar Rp513.926 per kapita per bulan, sementara pada Maret 2023 hanya Rp491.652 per kapita per bulan. Dari sisi jumlah, pada Maret 2024, total penduduk miskin di Kabupaten Sleman mencapai 97,94 ribu orang atau 7,46 persen dari total populasi. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 440 orang dibandingkan dengan Maret 2023 yang mencatat 97,5 ribu orang atau 7,52 persen. Meskipun demikian, Henri menekankan bahwa kedalaman kemiskinan (P1) serta indeks keparahan kemiskinan (P2) mengalami penurunan pada Maret 2024 dibandingkan dengan data pada Maret 2023, yang menunjukkan tren positif dalam perekonomian. Ia juga mencatat bahwa kondisi makroekonomi dan perlambatan kemiskinan di Sleman dipengaruhi oleh berbagai faktor. Juga, kemiskinan relatif di Yogyakarta dan Sleman yang sudah berada pada tingkat cukup rendah, biasanya akan menunjukkan penurunan yang lebih lambat dibandingkan daerah dengan persentase kemiskinan yang lebih tinggi. Sebagai langkah yang diusulkan, Henri menganjurkan agar Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan pengendalian harga-harga kebutuhan pokok untuk menjaga stabilitas inflasi. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan produksi pangan sebagai strategi untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. ANTARA