GORONTALO –
**Borneonews - Gorontalo**, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Gorontalo Utara tengah melaksanakan pengawasan terhadap proses verifikasi faktual ijazah bakal pasangan calon dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2024 di wilayah tersebut. Ketua Bawaslu Gorontalo Utara, Ronal Ismail, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pengawasan yang mendalam terkait tahapan verifikasi faktual berkas persyaratan bagi bakal pasangan calon bupati dan calon wakil bupati di Gorontalo Utara. Dalam pelaksanaan pengawasan ini, Bawaslu bersinergi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memastikan segala prosedur berjalan dengan baik. Ronal menjelaskan bahwa salah satu tugas utama Bawaslu di tingkat kabupaten/kota adalah mengawasi semua tahapan Pilkada, termasuk verifikasi faktual yang saat ini tengah berlangsung oleh KPU setempat. Proses verifikasi faktual ini bertujuan untuk memeriksa keabsahan ijazah yang diajukan oleh bakal calon sebagai syarat dokumen dalam pencalonan. Sebagai bagian dari proses ini, Bawaslu telah melakukan kunjungan ke beberapa institusi pendidikan, baik pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun perguruan tinggi. Dalam pengawasan yang dilakukan, dari tiga bakal pasangan calon yang mendaftar, Bawaslu telah mengunjungi empat daerah untuk memverifikasi keabsahan ijazah yang dimiliki, yang mencakup Kabupaten Gorontalo, Makassar, Manado, dan Banten. Ronal menambahkan bahwa pengawasan ini sangat penting untuk memastikan bahwa tahapan verifikasi faktual berjalan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan, serta untuk memastikan keabsahan dokumen administrasi yang diajukan oleh bakal calon bupati dan calon wakil bupati. Ia menegaskan bahwa semua proses pengawasan dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Hasil dari setiap pengawasan, termasuk segala temuan yang dicatat di lapangan, akan dilaporkan secara akurat. Dalam konteks pendaftaran Pilkada Serentak Tahun 2024, terdapat tiga pasangan calon yang telah mendaftar di KPU setempat, yaitu Roni Imran dan Ramdhan Mapaliey, Ridwan Yasin dan Muksin Badar, serta Thariq Modanggu dan Nurjanah Yusuf. ANTARA