JAKARTA –
**Borneonews - Sorong, Papua Barat Daya**, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menegaskan perlunya persiapan sumber daya manusia di Papua Barat Daya agar dapat menghadapi tantangan global, termasuk masalah ketenagakerjaan. Dalam sambutannya saat membuka Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasional (KKIN) yang ke-9, ia menyampaikan bahwa tantangan dalam dunia kerja saat ini sangat kompleks dan memerlukan perhatian yang mendalam terhadap berbagai faktor. Fauziyah menjelaskan bahwa kondisi perekonomian politik global diharapkan tetap tidak stabil. Hal ini diperkuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh *International Monetary Fund* (IMF) yang hanya mencapai 2,9 persen untuk tahun ini. Ia juga mencatat bahwa perekonomian negara-negara maju diperkirakan akan tumbuh lambat, dengan rata-rata pertumbuhan hanya 1,4 persen. Sementara itu, negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil diproyeksikan mengalami pertumbuhan sekitar 4 persen. Di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 4,5 persen. Tantangan lain yang perlu diatasi adalah digitalisasi dan perkembangan ekonomi hijau yang semakin mempengaruhi keadaan dunia kerja saat ini. Menteri Ketenagakerjaan tersebut menyoroti bahwa digitalisasi telah berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, yang diiringi dengan munculnya permintaan terhadap keterampilan baru di pasar kerja. Dalam konteks ini, ia juga mencatat adanya bonus demografi di mana kelompok masyarakat berusia 18 hingga 24 tahun mendominasi populasi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam menciptakan lapangan kerja guna mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda. Fauziyah menambahkan bahwa perubahan jenis pekerjaan dan keahlian juga menjadi tantangan tersendiri. Ia mempertanyakan kesiapannya dalam menghadapi perubahan tersebut, dengan menyebutkan bahwa 53 persen dari angkatan kerja di Indonesia hanya memiliki pendidikan hingga sekolah menengah pertama atau bahkan lebih rendah. Banyak di antaranya terlibat dalam sektor informal dan pekerjaan dengan keterampilan rendah. Menteri menegaskan bahwa tantangan-tantangan tersebut harus dihadapi dengan strategi yang komprehensif dan nyata, termasuk peningkatan keterampilan serta pendidikan dan pelatihan vokasi melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Hal ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi masalah tenaga kerja yang ada. ANTARA