JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dokter dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Endah Citraresmi, mengungkapkan bahwa diagnosis penyakit autoimun pada anak sering kali terlambat. Hal ini disebabkan oleh rendahnya frekuensi kasus autoimun, yang berdampak pada kurangnya kesadaran baik di kalangan masyarakat maupun tenaga medis. Diagnosis yang cepat dan tepat untuk penyakit autoimun pada anak sangatlah penting. Diagnosis dini memungkinkan pengobatan dan terapi dilakukan sesegera mungkin, yang dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada organ tubuh. Menurut Endah, jika penyakit tersebut tergolong ringan, pengobatan menjadi lebih sederhana dan efektif. "Ketika diagnosanya tepat pada waktunya, kita dapat menghindari kerusakan organ yang lebih banyak. Dengan demikian, kualitas hidup anak pun dapat terjaga," ujarnya dalam sebuah webinar. Endah juga mencatat bahwa banyak fasilitas kesehatan tidak memadai untuk menangani kasus tersebut, sehingga pasien sering kali harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar atau rumah sakit tipe B dan A untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Selain itu, obat-obatan untuk mengatasi penyakit autoimun pada anak masih sangat terbatas. "Sebagian besar obat yang ada saat ini diperuntukkan bagi orang dewasa, baik dalam bentuk tablet maupun infus. Ketika anak-anak menggunakan obat yang dosisnya jauh lebih kecil, mereka tetap harus membayar harga obat untuk orang dewasa," tambahnya. Menurut penelitian, penyakit autoimun pada anak biasanya disertai risiko morbiditas yang lebih tinggi, yang berpotensi menyebabkan kecacatan. Hal ini tentunya berdampak negatif pada perkembangan dan pertumbuhan anak. ""Dalam kasus tertentu, seperti lupus, angka kematian pada anak bisa lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa," ungkapnya. Dukungan dari keluarga dan pengasuh sangat penting bagi anak yang mengalami penyakit autoimun. Selain itu, pihak sekolah diharapkan dapat memahami kondisi khusus siswa yang memiliki penyakit ini. Endah menjelaskan bahwa tidak jarang anak-anak dengan penyakit autoimun memerlukan dispensasi tertentu, misalnya, ada yang tidak diperbolehkan berolahraga karena radang sendi, ada pula yang perlu menghindari sinar matahari. "Bahkan ada anak yang kesulitan untuk naik tangga ke lantai dua. Penting untuk ditegaskan bahwa penyakit autoimun tidak menular dan anak tidak seharusnya dikucilkan," katanya. Dari segi fisik, anak-anak dengan penyakit autoimun seringkali mengalami perubahan penampilan yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Berdasarkan penuturan Endah, banyak dari mereka mengalami kebosanan akibat harus mengonsumsi obat dalam jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang lama, serta berpotensi mengalami efek samping dari obat tersebut. Anak-anak yang menderita penyakit autoimun juga dapat menghadapi tantangan dalam proses belajar, terutama ketika penyakit tersebut memengaruhi fungsi otak. Mereka menjadi lebih rentan terhadap stres dan depresi akibat kondisi kesehatan mereka. "Dengan demikian, masalah yang dihadapi oleh anak-anak dengan penyakit autoimun adalah hal yang kompleks. Hal ini bukan hanya sekadar masalah kesehatan, tetapi juga melibatkan aspek psikososial dan kualitas hidup," tegasnya. ANTARA