SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Seorang pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, menilai bahwa Jawa Timur (Jatim) merupakan area politik yang sangat unik dan sulit diprediksi bagi para calon peserta pemilihan kepala daerah (Pilkada). Ia menyebutkan bahwa keberagaman dalam kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang menciptakan kompleksitas tersebut. Misalnya, seorang calon mungkin memiliki dukungan yang kuat di Madura, tetapi hal ini tidak dapat dijamin akan sama di wilayah Mataraman, Arek, Pandalungan, atau Pantai Utara. Surokim menjelaskan bahwa konteks politik di Jatim tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi geografis, tetapi juga oleh karakter daerah yang bervariasi. Keunikan yang ada di provinsi ini pada akhirnya berdampak pada pembentukan karakter masyarakat yang plural. Oleh karena itu, akan sangat penting bagi para calon untuk merancang strategi politik yang tepat dan teliti. "Karakter tipikal masyarakat di sini sangat beragam. Ada yang tinggal di daerah metropolitan seperti Surabaya, ada yang mayoritas religius, dan ada pula yang mengadopsi kehidupan tradisional. Ini semua menuntut adanya strategi yang lebih ekstra," tambahnya. Surokim, yang juga merupakan peneliti senior di Surabaya Survei Center (SSC), mengungkapkan bahwa terbatasnya waktu semakin menjadi tantangan bagi strategi yang harus diterapkan oleh setiap calon kepala daerah. "Waktu yang sempit ini menjadi masalah bagi calon karena menjangkau 30 juta pemilih bukanlah hal yang mudah," ujarnya. Ia mengemukakan bahwa calon kepala daerah yang memiliki lebih banyak strategi elektorallah yang akan unggul dalam kompetisi. "Di sini, bukan hanya penting untuk menjangkau pemilih di wilayah urban kalangan menengah, tetapi juga bagaimana cara menarik minat pemilih yang plural dan berada di daerah pedesaan yang luas di Jawa Timur," jelas Surokim. Dalam proses pendaftaran untuk pemilihan kepala daerah Jawa Timur, terdapat tiga pasangan calon yang telah terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat. Pasangan tersebut adalah Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak, Tri Rismaharini dan Zahrul Azhar Asumta, serta Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim. ANTARA