JAKARTA –
**Borneonews - Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur**, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang melaksanakan sebuah proyek percontohan *modeling* untuk budidaya rumput laut yang berfokus pada aspek hilirisasi di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini bertujuan memaksimalkan potensi rumput laut yang dikenal sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar global. Dalam penjelasannya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa hilirisasi akan difasilitasi dengan bantuan mesin pengering, serta melakukan koneksi dengan *off taker* melalui Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP). Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dari produk rumput laut yang dihasilkan. Adapun skala proyek ini adalah seluas 50 hektare yang sudah mulai dibangun, mengingat Rote Ndao merupakan salah satu kabupaten dengan kontribusi signifikan dalam produksi rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumput laut yang berasal dari wilayah ini diakui memiliki kualitas yang sangat baik di pasaran internasional. Tebe, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pemilihan Rote Ndao sebagai kawasan untuk pengembangan *modeling* budidaya rumput laut didasari oleh potensi lahan yang sangat besar. Tercatat ada sekitar 32 ribu hektare lahan yang berpotensi untuk kegiatan budidaya rumput laut, sedangkan hingga saat ini, hanya sekitar 6,9 persen dari lahan tersebut yang telah dimanfaatkan. Lebih lanjut, Tebe menyebutkan bahwa kegiatan budidaya rumput laut menjadi aspek penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Sekitar 4.615 pembudidaya terlibat di dalamnya, dan mereka mengandalkan budidaya rumput laut sebagai sumber pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Presiden Joko Widodo sebelumnya telah memerintahkan percepatan hilirisasi rumput laut melalui *modeling* budidaya, dengan target pengembangan di lima wilayah, salah satunya Rote Ndao. Program ini diharapkan dapat mendorong pengelolaan budidaya rumput laut yang terintegrasi berbasis kawasan, serta menerapkan konsep ekonomi biru, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas produksi dan keberlanjutan usaha budidaya masyarakat. Sebagaimana halnya dengan proyek *modeling* budidaya rumput laut di Wakatobi yang dibangun pada tahun 2023, proyek di Rote Ndao juga akan mencakup pembangunan unit produksi bibit rumput laut (UPBRL) berbasis kultur jaringan, kebun starter, kebun bibit, serta budidaya rumput laut. Dengan adanya UPBRL yang beroperasi secara efektif, diharapkan dapat menghasilkan bibit rumput laut berkualitas tinggi, yang mampu memenuhi kebutuhan bibit bagi para pembudidaya di Rote Ndao. ANTARA