YOGYAKARTA –
**Borneonews - Sleman**, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, telah melaksanakan program demonstrasi atau *demplot* budidaya talas di Kalurahan Sumbersari. Program ini memanfaatkan lahan bero seluas 26 hektare. Kerja sama ini dilakukan bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bappeda Sleman, Nur Hidayah, menyampaikan harapannya bahwa uji coba *demplot* tanaman talas ini dapat menjadi solusi alternatif bagi para petani dalam memanfaatkan lahan bero mereka. "Dengan adanya pemanfaatan lahan bero ini, kami berharap dapat memberikan tambahan pendapatan bagi petani yang sebelumnya tidak mengolah lahan mereka," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa lahan bero di Kalurahan Sumbersari umumnya ditinggalkan selama satu tahun, yang disebabkan oleh serangan hama tikus. "Kami ingin agar *demplot* ini dapat menghidupkan kembali lumbung pangan di Sleman, khususnya di kawasan Moyudan," imbuhnya. Sementara itu, Dosen Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Sutaryono, menyoroti masalah serius yang dihadapi di kawasan lumbung pangan Sleman, terutama di wilayah Kapanewon Moyudan, Minggir, dan Seyegan. Pemerintah Kabupaten Sleman pun berinisiatif untuk memanfaatkan lahan bero yang luasnya mencapai puluhan hektare melalui program budi daya. Sutaryono mengungkapkan bahwa serangan hama tikus menjadi penyebab utama persoalan di lahan bero tersebut. Untuk itu, Bappeda Sleman telah berkolaborasi dengan STPN dan UGM melalui kompetisi hibah riset untuk menyeleksi proposal yang sesuai dengan karakteristik masalah di Sleman. Salah satu fokus dari penelitian ini adalah optimalisasi lahan bero, di mana *demplot* talas ini menjadi bagian dari upaya tim peneliti UGM yang berhasil memperoleh hibah riset. "Tumbuhan talas memiliki ketahanan terhadap hama tikus, sehingga menjadikannya pilihan ideal untuk ditanam," ujar Sutaryono. Peneliti dari Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Wahyudi Kumorotomo, juga mencatat bahwa wilayah Moyudan memiliki banyak lahan bero. Ia menjelaskan bahwa petani seringkali berpikir bahwa tanaman pangan hanya sebatas padi. Namun, dengan adanya serangan hama tikus, peneliti berupaya mengubah pola pikir ini dengan memperkenalkan tanaman talas. Wahyudi menggarisbawahi pilihan talas sebagai komoditas yang tepat karena mudah dalam perawatan dan tidak memerlukan perhatian khusus. Ketersediaan air irigasi yang melimpah di Moyudan juga membuat talas cocok untuk dibudidayakan. "Kami perlu meyakinkan petani bahwa talas bisa menghasilkan sebagaimana tanaman padi," terangnya. Namun, ia mengakui bahwa masa tanam talas relatif lebih lama, yaitu sekitar tujuh bulan, sementara padi bisa dipanen dalam tiga bulan. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa dalam jangka waktu enam bulan, hasil panen talas jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan padi, terutama jika lahan dibiarkan kosong atau bero. "Tanaman talas ini menawarkan keuntungan yang lebih besar," tambahnya. Lebih lanjut, Wahyudi mencatat tingginya permintaan terhadap talas. Tim dari UGM akan memberikan pendampingan kepada petani untuk penjualan hasil panen talas. "Permintaan yang ada cukup signifikan, dan peluang pasar terbuka lebar," pungkasnya. ANTARA