JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini tengah mematangkan konsep terintegrasi untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (*karhutla*) yang bertujuan untuk mendukung proses pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Dalam sebuah rapat kerja yang diadakan secara daring dengan anggota Komisi VIII DPR RI, Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa program ini merupakan arahan khusus yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2024-2029. Hal ini dimaksudkan agar BNPB dapat menjalankan perannya dalam memperlancar berbagai tahapan pembangunan IKN. Target BNPB adalah menyelesaikan konsep penanganan karhutla guna IKN paling lambat pada bulan Oktober 2024. Dengan demikian, program tersebut dapat segera diterapkan oleh pemerintahan yang akan datang. Suharyanto menambahkan bahwa dalam rencana yang sedang disusun, terdapat sejumlah langkah yang mencakup penguatan komunitas melalui pembentukan desa yang resilient terhadap bencana, pemetaan risiko bencana, serta penyediaan perlengkapan logistik. Suharyanto juga menyampaikan, untuk mendukung pengendalian kebakaran hutan, BNPB akan mengintegrasikan seluruh sistem, alat, dan perangkat yang sudah ada dari kementerian/lembaga terkait serta Otoritas Ibu Kota Nusantara (*OIKN*). Sebagai bagian dari langkah ini, BNPB berencana untuk memindahkan 183 pegawai, termasuk pejabat setingkat eselon 1 dan 2, ke IKN. Pemindahan ini dimaksudkan agar koordinasi dalam pengambilan keputusan terkait penanganan karhutla dan bencana dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien. Menurutnya, penting untuk diperhatikan bahwa kebakaran hutan menjadi tantangan signifikan di Kalimantan Timur, terutama saat musim kering. Oleh karena itu, fokus dari konsep yang sedang dikembangkan adalah pada tindakan pencegahan, bukan sekadar penanganan setelah kebakaran terjadi. Selama periode Januari hingga Juli, BNPB mencatat ada 9.148 titik panas di Kalimantan Timur berdasarkan data inventaris dari Pusat Pengendalian Operasi. Sebagian besar titik panas ini terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Jika situasi ini tidak ditangani dengan baik, ada potensi untuk menyebar ke wilayah lain, termasuk pusat pemerintahan IKN, terutama saat cuaca kering dengan angin yang kencang. Dalam langkah mitigasi, pada periode tersebut BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menaburkan 111 ton NaCl dan 8 ton kalsium oksida (*CaO*) sebagai bahan semai. Selain itu, BNPB juga mengerahkan empat helikopter untuk melakukan patroli dan penyiraman air dari udara atau *water bombing* di Kalimantan Timur. Untuk memperkuat upaya penyiraman darat, BNPB juga menyalurkan sebanyak 40 mesin pompa air beserta lima tandon air tambahan kepada pemerintah daerah. Ini semua dilakukan untuk memastikan bahwa lahan mineral dan gambut tidak mudah terbakar. ANTARA