MATARAM –
**Borneonews - Sembalun,** Upaya untuk mengatasi permasalahan sampah yang mencemari keindahan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, kini dapat dilakukan melalui penerapan konsep pendakian *zero waste*. Badan Pengelola Geopark Global UNESCO Rinjani berkomitmen untuk mengurangi jumlah sampah yang dibawa oleh para pendaki. Mohamad Farid Zaini, sebagai *General Manager* Badan Pengelola Geopark Global UNESCO Rinjani, dalam sebuah acara sarasehan mengenai *zero waste trekking mountain camp* di Sembalun, menyatakan pentingnya kampanye untuk menekan volume sampah yang dihasilkan selama pendakian. Selama sepuluh tahun terakhir, isu sampah di gunung tersebut tidak kunjung menemukan solusi yang efektif. Sanksi berupa daftar hitam dan pemeriksaan barang bawaan pendaki saat melakukan pendakian dan turun dari gunung ternyata belum mampu menyelesaikan masalah sampah. Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut ini, memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua pihak, termasuk pengelola usaha pendakian, pekerja angkut, pemandu wisata, hingga para pendaki itu sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Farid menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik, di mana semua sampah harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam wadah kecil untuk dibawa kembali turun tanpa meninggalkan jejak. Gunung Rinjani dikenal sebagai gunung tertinggi ketiga di Indonesia, dan menawarkan keindahan alam yang luar biasa serta kekayaan hayati yang dipadukan dengan keunikan budaya masyarakat lokal. Pada tahun 2023, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat jumlah kunjungan mencapai 140 ribu pendaki. Dari jumlah tersebut, dihasilkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp14,7 miliar, dan perputaran ekonomi di kalangan masyarakat lokal sekitar Rp79 miliar. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Yarman, menjelaskan bahwa gunung ini memiliki enam jalur pendakian dan 21 destinasi wisata non-pendakian. Namun, banyaknya jalur ini menjadikan pemilahan sampah menjadi kurang efektif karena pendaki dapat mengakses pintu pendakian yang berbeda. Oleh karena itu, Yarman menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan pemangkasan pada pintu masuk dengan mempersiapkan pengelola wisata pendakian, petugas, dan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional untuk mendukung upaya pengelolaan sampah. Dalam upaya pemberdayaan, akan disediakan makanan organik siap masak untuk para pendaki, termasuk buah dan sayuran. Pengelola wisata pendakian diharapkan untuk mengedukasi pengunjung dan mitra mereka mengenai pentingnya melakukan pendakian dengan prinsip *zero waste*. "Kami harus mempersiapkan segala perlengkapan, termasuk wadah untuk menyimpan makanan, agar tidak ada potensi sampah yang dihasilkan," imbuh Yarman. ANTARA