**Borneonews - Jakarta**, Menteri Sosial Tri Rismaharini menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya mengumpulkan data terkait masyarakat kelas menengah yang berisiko mengalami penurunan kelas sosial. Ini dilakukan dengan tujuan untuk segera menyalurkan bantuan yang diperlukan guna menjaga daya beli kelompok tersebut.
Saat ini, Kementerian Sosial masih mencari informasi lebih mendalam mengenai penurunan jumlah kelas menengah di tanah air. Data yang diperoleh dari sejumlah institusi, seperti Kementerian Ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), belum dapat memastikan angka pasti terkait situasi ini.
Dalam sebuah rapat kerja yang diadakan di Kompleks Parlemen Jakarta, pada hari Selasa, Mensos Risma mengungkapkan, "Kami masih berusaha mengejar data tersebut, agar kelompok menengah yang rentan ini dapat kami bantu dan daya beli mereka tetap terjaga." Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap pertanyaan yang diajukan oleh anggota Komisi VIII DPR RI, Hidayat Nur Wahid, yang mempertanyakan langkah Kementerian Sosial dalam menangani fenomena penurunan kelas sosial masyarakat menengah yang belakangan ini mengemuka.
Hidayat menekankan bahwa fenomena ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Mensos dan timnya, karena berpotensi mempengaruhi kualitas bonus demografi serta pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan, "Apakah isu ini telah dibahas dan dipersiapkan? Bagaimana cara mengatasi kelompok yang sebelumnya berada di kelas menengah dan kini rentan terhadap kemiskinan? Sebuah upaya untuk mencegah mereka jatuh ke jurang kemiskinan, bahkan berusaha agar mereka bisa kembali ke kelas menengah harus dilakukan."
Menurut Hidayat, pada tahun 2019 jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia tercatat sebanyak 57,3 juta orang. Namun, diestimasi akan menurun menjadi 47,8 juta orang pada tahun 2024.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Jumat, 30 Agustus lalu, kategori masyarakat kelas menengah dan calon kelas menengah menguasai 66,35 persen dari total populasi Indonesia. Proporsi konsumsi pengeluaran mereka mencapai 81,49 persen dari total konsumsi nasional. Sayangnya, persentase masyarakat kelas menengah mengalami penurunan setelah pandemi COVID-19, dari 57,33 juta jiwa yang merupakan 21,45 persen pada tahun 2019, menjadi 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen pada tahun 2024. Di sisi lain, jumlah individu yang berada di jalur menuju kelas menengah justru meningkat dari 128,85 juta (48,20 persen) pada 2019 menjadi 137,50 juta (49,22 persen) pada 2024.
ANTARA
Menteri Sosial Berupaya Cegah Penurunan Kelas Menengah di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Putin Bantah Tudingan Rusia Provokasi Demonstrasi di Kawasan Eropa
Semarak Bulan Bahasa Digelar Serentak di 30 Balai Bahasa, Kalteng Angkat Seni dan Sastra
Shin Tae-yong Bersimpati Terhadap Pelatih Super League yang Dipecat
PSMS Medan Bungkam PSIS Semarang 2-1
Komisi III DPR Minta Kapolri Terus Gas Pol Perangi Narkoba
Manchester United Tak Berdaya, Dihajar Bournemouth 0-3 di Old Trafford
Komentar (0)
Memuat komentar…







