JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki, mengajak semua pihak untuk memperkuat dan memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro di Indonesia. Dalam sebuah forum tinggi mengenai kemitraan multistakeholder di Bali, Teten menekankan pentingnya perluasan ini untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di sektor mikro. Lebih lanjut, Teten menyatakan bahwa perluasan akses pembiayaan tidak hanya berfokus pada penyediaan modal, tetapi juga harus dilengkapi dengan pendampingan intensif. Hal ini diharapkan dapat membantu para pelaku usaha mikro agar tetap tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berubah. "Semua pemangku kepentingan perlu bersinergi agar program-program seperti *Kredit Usaha Rakyat* (KUR) dapat menjangkau seluruh pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di seluruh tanah air. Selain KUR, kami juga menyalurkan pembiayaan ultra mikro melalui PT PNM (Permodalan Nasional Madani)," ungkapnya dalam keterangan yang dirilis oleh kementerian pada Selasa. Ia berharap agar inovasi pembiayaan di sektor mikro dapat ditingkatkan, salah satunya melalui penyaluran kredit berbasis *credit scoring* yang tidak memerlukan agunan. Inisiatif ini penting agar para pelaku usaha lebih mudah mengakses pendanaan yang mereka butuhkan. Dalam upaya memperkuat inovasi pembiayaan untuk UMKM, Kementerian Koperasi dan UKM telah memfasilitasi pendanaan untuk sektor produktif melalui koperasi, yang disalurkan oleh Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM). Teten menekankan bahwa langkah ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja UMKM yang ada di bawah naungan koperasi. Lebih jauh, Teten mengingatkan pentingnya meningkatkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan komunitas lokal. Kerja sama yang kuat di antara semua pihak ini dianggap sebagai kunci untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM sehingga dapat memiliki daya saing yang tinggi. "Sinergi yang baik memastikan bahwa inisiatif pembiayaan mikro memiliki dampak yang nyata dan berkelanjutan, dengan dukungan aktif dari pemerintah daerah untuk menyesuaikan program pembiayaan dengan kebutuhan lokal," tambahnya. Teten juga berpesan agar proses evaluasi dan pemantauan terhadap semua program dan kebijakan terkait pembiayaan di sektor mikro dilakukan secara rutin. Hal ini penting untuk memastikan bahwa program-program tersebut tepat sasaran dan memenuhi target yang telah ditetapkan. Dengan berbagai strategi yang telah direncanakan, Teten optimis bahwa rasio pembiayaan oleh lembaga keuangan dapat mencapai minimal 30 persen pada tahun 2024. Untuk mendukung pencapaian target ini, Kementerian Koperasi dan UKM saat ini tengah mempersiapkan pelaksanaan ASEAN Micro and Small Enterprises Financing Institution (*AMSEF*) sebagai sarana untuk meningkatkan akses keuangan bagi UMKM, terutama di sektor mikro. ANTARA