JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Jasa Keuangan dan BUMN Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rosy Wediawaty, menegaskan bahwa produktivitas perekonomian Indonesia dapat diperkuat melalui pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan secara virtual, *Sharia Economics And Finance International Seminar - Policies for the Prabowo Government*, beliau menyampaikan keyakinannya bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inovatif. Rosy Wediawaty menjelaskan bahwa optimisme terhadap sektor ekonomi syariah berakar dari besarnya potensi yang dapat dimanfaatkan. Selama lima tahun terakhir, Indonesia menunjukkan performa yang positif dalam ekspor produk halal, yang cenderung meningkat lebih baik dibandingkan dengan impornya. Sebagai contoh, pada tahun 2022, nilai ekspor produk halal dari Indonesia mengalami kenaikan sebesar 9,05 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama rentang waktu 2017 hingga 2021, pangsa pasar dari rantai nilai halal menunjukkan tren yang meningkat dengan kontribusi mencapai sekitar 25,44 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2021. Meskipun pada tahun 2022 terjadi penurunan yang signifikan, kontribusi sektor ini kembali naik pada tahun 2023, mencapai hampir 23 persen dari PDB. Dalam hal pariwisata, sektor wisata ramah muslim di Indonesia juga dianggap memiliki potensi yang sangat besar. Berdasarkan data dari Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023, Indonesia berhasil meraih peringkat tertinggi berkat keunggulannya dalam aksesibilitas, komunikasi, lingkungan, serta layanan yang ditawarkan oleh destinasi wisata ramah muslim. Aspek-aspek layanan yang menjadi sorotan mencakup restoran halal, taman bermain, bandara, hotel, serta objek wisata budaya, yang didukung oleh keterampilan komunikasi dan kesadaran dari para pemangku kepentingan. Dari sisi keuangan syariah, Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif meskipun secara keseluruhan pangsa pasar mengalami perlambatan. Selama periode 2017-2019, sektor ini tumbuh tajam hingga mencapai 76,5 persen. Adapun penghimpunan dana sosial Islam, yang bersumber dari aset, serta dana keagamaan lainnya, mengalami tren yang meningkat dari tahun 2022 hingga 2023. Upaya tersebut dinilai dapat dioptimalkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Namun, untuk mencapai potensi maksimal, diperlukan strategi yang cermat, mengingat terdapat estimasi penghimpunan zakat tahunan yang bisa mencapai Rp 327 triliun. Dalam kesempatan tersebut, Rosy juga menyampaikan arah kebijakan ekonomi dan keuangan syariah yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. Dia menekankan pentingnya penguatan sektor ini untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional, termasuk mengedepankan peningkatan posisi keuangan syariah Indonesia di kancah global. Selanjutnya, penguatan dana sosial syariah juga diangap krusial untuk mendukung penanggulangan kemiskinan serta mengurangi ketimpangan sosial ekonomi. Di samping itu, perlu adanya penguatan ekosistem industri syariah, dengan fokus pada industri makanan dan minuman halal, fesyen muslim, kosmetik, farmasi, pariwisata, dan sektor ekonomi kreatif. Hal ini mencakup penguatan rantai nilai industri dan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Akhirnya, Rosy Wediawaty menegaskan pentingnya penguatan regulasi yang mengatur lembaga ekonomi serta keuangan syariah, bersama dengan pembangunan infrastruktur yang mendukung keberlanjutan sektor ini ke depan. ANTARA