BORNEONEWS, Sampit - Pulau Kalimantan sebagian besar masih dikelilingi oleh hutan. Oleh sebab itu, Kalimantan merupakan salah satu bagian paru-paru dunia yang didalamnya terdapat hewan-hewan hampir punah juga dilindungi.
Hutan Kalimantan juga sering disebut Hutan Amazon Indonesia ini, dalam beberapa tahun terakhir kerap terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada saat musim kemarau yang melanda.
Tanah Kalimantan sebagian besar merupakan tanah gambut sehingga membuat sering terjadi Karhutla. Hal ini dikarenakan tanah gambut memiliki sifat yang mirip spons, yaitu dapat menyerap dan menahan air. Namun, saat musim kemarau, tanah gambut akan menjadi kering dan mudah terbakar.
Kebakaran lahan gambut dapat menimbulkan asap tebal dan api yang menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat. Membuat hutan yang ada di Kalimantan kian berkurang.
Berkurangnya hutan di Kalimantan menjadi ancaman serius bagi berbagai jenis satwa langka di Kalimantan, antara lain orangutan, bekantan, beruang madu dan berbagai jenis owa.
--page
Salah satu wilayah Kalimantan yang kerap kali terjadi Karhutla ialah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng). Dari Januari hingga Agutus tahun 2024 ini telah beberapa kali terjadi Karhutla.
Sehingga membuat hewan yang habitatnya di dalam hutan sering ditemukan masyarakat masuk ke dalam pemukiman dan perkarangan rumah.
Baru-baru ini, Bekantan hewan endemik Kalimantan yang dilindungi oleh pemerintah ditemukan warga masuk ke dalam ruangan sekolah Pondok Pesantren yang ada di Sampit.
Hal itu dikarenakan, bekantan kehilangan habitatnya yang telah mulai terancam. Kemudian masuk ke dalam pemukiman warga untuk mencari makanan.
Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Sampit Murianysah, mengatakan pihak banyak menerima laporan dari masyarakat tentang keberadaan satwa-satwa liar yang hampir punah masuk ke dalam perkarangan warga.
--page
"Sebelumnya ada beberapa laporan seperti Orang Utan, Beruang Madu, Bekantan dan lainnya yang berada di sekitar lokasi pemukiman warga. Khawatirnya mereka dapat mengganggu aktifitas warga," kata Muriansyah.
Tidak hanya hewan berjenis primata saja yang habitatnya tertanggu. Namun, hewan lainnya seperti ular juga sering kali ditemukan warga bahkan hingga masuk ke dalam rumah milik warga.
Hal ini menunjukkan bahwa, hewan-hewan itu kehilangan hutan yang merupakan tempat tinggal aslinya yang kini perlahan mulai terkikis disebabkan Karhutla.
"Salah satu mereka kehilangan habitatnya dikarena sering terjadi Karthutla. Sehingga hewan-hewan ini mencari tempat tinggal lain yang pada akhirnya masuk ke dalam permukan warga," beber Muriansyah.
Lanjutnya, ia berharap masyarakat dapat bersama-sama melestarikan hutan-hutan yang ada di Kalimantan Khusushya di Sampit. Sehingga hewan-hewan asli Pulau Kalimantan ini tidak kehilangan tempat tinggalnya.
--page
"Di Kabupeten Kotim ini masih banyak ditemukan hewan-hewan langka dan dilindungi. Oleh karena itu, mari kita sama-sama menjaga hutan kita sehingga mereka tidak kehilangan tempat tinggal. Karena hutan juga merupakan ciri khas dari Pulau Kalimantan," harapnya. (BUDDI RAHMAT H/j)









