JAKARTA –
**Borneonews - Parigi Moutong**, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa meskipun tidak ada warga yang mengungsi, para korban banjir di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tetap akan menerima bantuan. Hal ini terungkap oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan pers yang disampaikan di Jakarta. Abdul menjelaskan kondisi terkini di lokasi terdampak. Meskipun tidak ada pengungsian, tim BNPB telah melakukan asesmen untuk menangani kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana. Bantuan untuk para korban tersebut akan dikelola oleh pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, menghadirkan sinergi dengan berbagai pihak terkait lainnya. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi BNPB, hingga hari ini tercatat sebanyak 587 korban yang terdiri dari 173 keluarga. Seluruh korban tersebut merupakan masyarakat Desa Sausu Piore, Kecamatan Sausu, yang mengalami banjir dengan ketinggian air yang mencapai lebih dari 50-60 sentimeter, setara dengan tinggi lutut orang dewasa, akibat cuaca ekstrem yang terjadi pada Selasa dini hari. Sungai Sausu tidak mampu menampung debit air hujan yang cukup deras, menyebabkan air meluap dan memperburuk situasi banjir. Petugas dari tim reaksi cepat BPBD Parigi Moutong melaporkan bahwa tidak hanya rumah yang terendam, tetapi sekitar 154 rumah juga kebanjiran, bersamaan dengan 100 hektare lahan perkebunan dan 70 hektare lahan persawahan yang turut terendam. Meskipun banjir mulai surut pada hari ini dan petugas siaga di lokasi, BNPB tetap mengimbau warga agar tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan. Hal ini disebabkan oleh ramalan cuaca yang menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga deras masih akan melanda wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari ke depan. Untuk mencegah terjadinya banjir di masa mendatang, Abdul mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan saluran drainase dan aliran sungai dari sampah dan benda-benda yang dapat menghambat aliran air. Selain itu, diperlukan dan dimungkinkan pembangunan infrastruktur seperti bendungan untuk mengurangi risiko banjir jangka panjang dengan mengelola volume air saat terjadi hujan deras. ANTARA