JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami peningkatan pada perdagangan yang berlangsung pada hari Rabu. Kenaikan ini terjadi berkat tingginya permintaan dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN). Saat perdagangan dibuka pada pagi hari, rupiah menunjukkan penguatan sebesar 21 poin atau sekitar 0,14 persen, yang menjadikannya dihargai pada level Rp15.505 per dolar AS. Sebelumnya, nilai kurs adalah Rp15.526 per dolar AS. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, yang dihubungi di Jakarta, lemahnya posisi rupiah dalam beberapa waktu terakhir terbilang terbatas. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan di lelang SBN yang baru saja dilakukan. Pada lelang obligasi yang berlangsung pada hari Selasa, pemerintah berhasil menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dengan total mencapai Rp22 triliun. Jumlah ini diperoleh dari total penawaran yang masuk sebesar Rp45,49 triliun. Dalam transaksi obligasi pemerintah yang terjadi pada hari yang sama, volume perdagangan tercatat sebesar Rp22,17 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan volume perdagangan pada hari Senin sebelumnya, yang hanya mencapai Rp17,63 triliun. Namun, di sisi lain, kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia mengalami penurunan sebesar Rp0,56 triliun menjadi Rp851 triliun, yang setara dengan 14,48 persen dari total obligasi yang beredar per hari Senin. Dari luar negeri, terdapat kembali kekhawatiran di kalangan para pelaku pasar mengenai pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Kekhawatiran ini muncul setelah beberapa indikator, baik di sektor manufaktur maupun sektor konstruksi, menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan. Indeks *S&P Global US Manufacturing PMI* untuk bulan Agustus 2024 tercatat turun menjadi 47,9, lebih rendah dibandingkan estimasi konsensus yang memprediksikan angka 48. Sementara itu, *ISM Manufacturing* untuk periode yang sama mengalami sedikit kenaikan menjadi 47,2 dari sebelumnya 46,8. Namun, angka ini tetap di bawah ekspektasi yang telah ditentukan yakni 47,5, dan masih berada dalam fase kontraksi. Data dari sektor manufaktur yang lebih lemah ini menunjukkan bahwa pemulihan di sektor tersebut di AS belum sepenuhnya terjadi. Hal ini diperparah dengan laporan belanja konstruksi yang mencatat penurunan -0,3 persen secara month on month (mom), yang juga jauh dari ekspektasi kenaikan 0,1 persen mom. Ini memperlihatkan adanya pelemahan yang cukup signifikan di sektor konstruksi AS. Sektor konstruksi dan manufaktur merupakan pilar utama dari produk domestik bruto (PDB) AS. Oleh karena itu, adanya penurunan dalam data ini menunjukkan adanya kemungkinan risiko yang lebih besar terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS pada paruh kedua tahun 2024. Imbal hasil (*yield*) dari obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 7 basis poin (bps), sehingga berada di angka 3,83 persen. Penurunan ini diperkirakan sebagai dampak dari potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS yang mungkin akan memicu penurunan suku bunga kebijakan oleh bank sentral, The Fed. Josua memperkirakan bahwa pergerakan nilai rupiah ke depan kemungkinan akan berada di rentang antara Rp15.475 per dolar AS hingga Rp15.600 per dolar AS. ANTARA