JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dinilai sangat krusial dalam memperkuat hubungan antarumat beragama dan mempromosikan toleransi di negara ini. Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Prof. Sahiron Syamsuddin, mengungkapkan bahwa perhatian Paus terhadap isu-isu kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian merupakan salah satu alasan mengapa kunjungan ini memiliki makna yang mendalam. Sahiron menjelaskan bahwa kedatangan Paus ke Indonesia membawa harapan besar untuk meningkatkan kerukunan dan persahabatan antara umat Katolik dan umat Islam, di tengah masyarakat multikultural seperti Indonesia. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini juga menjadi simbol pengakuan dari umat Katolik di seluruh dunia terhadap keberhasilan Indonesia dalam mengelola toleransi beragama. Dia berharap, perhatian yang ditunjukkan oleh Paus tersebut dapat dikelola dengan bijak oleh Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menjadikan negara ini sebagai teladan bagi masyarakat internasional dalam menciptakan harmoni di tengah keberagaman, berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Prof. Sahiron juga menyoroti bahwa meskipun Indonesia dikenal sebagai negara yang menganut nilai-nilai perdamaian, ada kalanya kondisi tersebut terancam oleh berbagai pihak. Terutama konflik antarumat beragama, termasuk antara penganut Islam dan Kristen, yang beberapa kali terjebak dalam ketegangan yang tidak substansial dan sering kali dipicu oleh isu politis, bukan oleh ajaran agama itu sendiri. Ketidakpahaman dalam berkomunikasi sering kali memperburuk masalah yang muncul di tengah interaksi antarumat. Ia menyatakan bahwa konflik yang terjadi di dalam masyarakat sering kali berakar dari hal-hal kecil, namun bisa meningkat menjadi isu besar apabila tidak ditangani dengan baik. Mencermati fenomena tersebut, Sahiron menginginkan agar konflik yang telah terjadi tidak terulang kembali. Dia menegaskan bahwa perbedaan keyakinan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memecah belah. Sebaliknya, semua ajaran agama mengedepankan kebaikan dan persatuan antarmanusia. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa jika ada individu yang menyebarkan kebencian dan perpecahan, itu menandakan bahwa mereka belum memahami esensi ajaran agama mereka dengan benar. Dalam konteks ini, dia berharap agar Indonesia mampu menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi tantangan berbagai isu yang bersifat politis dan bisa menyebabkan polarisasi. Kedepannya, Sahiron berharap aktivitas-aktivitas positif seperti dialog antara umat beragama dan penguatan moderasi beragama dapat digalakkan secara lebih efektif dan masif untuk meningkatkan toleransi di masyarakat. Kunjungan Paus Fransiskus juga melambangkan kekuatan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Vatikan. Ia mencatat bahwa sejauh ini, relasi kedua negara berjalan dengan sangat baik dan diharapkan bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan. Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sedangkan Vatikan merupakan pusat spiritual agama Katolik. Keduanya bisa menjadi simbol persatuan dalam keberagaman yang patut diteladani. ANTARA