**Borneonews - Jakarta**, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap inisiatif Kementerian Agama yang mengusulkan agar stasiun televisi mengganti tayangan azan Maghrib dengan *running text* (teks berjalan) pada saat misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus. Langkah ini dianggap sebagai bentuk toleransi dan penghormatan terhadap umat Katolik yang tengah melaksanakan ibadah.
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Anderyan Noor, mengungkapkan bahwa penggantian azan di televisi dengan *running text* adalah tindakan yang tepat guna menghormati para saudara seiman yang berada dalam misa. Ia menekankan bahwa meskipun azan di televisi diubah, suara azan dari masjid tetap akan berbunyi sebagai panggilan untuk salat.
Misa yang akan berlangsung pada hari Kamis, dari pukul 17.00 WIB hingga 19.00 WIB, berlangsung bersamaan dengan waktu azan Maghrib. Oleh karena itu, ada pertimbangan bahwa mengganti tayangan azan di televisi dengan teks berjalan akan memudahkan umat Katolik yang tidak dapat hadir di lokasi misa secara langsung di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Anderyan menambahkan pentingnya menunjukkan sikap toleransi. Ia bertanya, "Dari 365 hari dalam setahun, mengapa kita tidak bisa memberikan satu hari untuk menghormati saudara kita yang sedang beribadah?" Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, menurutnya, merupakan momen yang perlu dirayakan dan dihormati.
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk memanfaatkan media alternatif, seperti ponsel dan pengingat yang ada di mushola atau masjid di sekitar tempat tinggal, untuk tetap dapat mendengar panggilan salat meskipun tayangan azan di televisi berlangsung berbeda.
Sebelumnya, kedua organisasi keagamaan, PBNU dan MUI, juga menunjukkan pandangan yang sejalan. Mereka menyetujui penggantian tayangan azan di televisi dengan teks berjalan saat misa bersama Paus Fransiskus berlangsung.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni'am Sholeh, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak melanggar syariat Islam. Ia menyatakan bahwa prinsip syariat tidak dilanggar, dan perubahan ini merupakan solusi yang tepat untuk memungkinkan siaran *live* misa yang diikuti oleh jemaat Kristiani yang tidak dapat beribadah di GBK.
Asrorun juga memberikan contoh situasi lain, seperti saat acara siaran langsung sepak bola yang kebetulan bertepatan dengan waktu azan. Dalam situasi tersebut, tayangan azan juga bisa diganti dengan teks berjalan. "Ini semata-mata tentang kearifan lokal," ujar Ni'am menambahkan.
ANTARA
Dukungan Muhammadiyah untuk Toleransi Saat Misa Paus Fransiskus
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Satresnarkoba Polres Seruyan Tangkap Pengedar Sabu di Rungau Raya, 14 Paket Disita
Kemenpar Harap Sepak Bola Sebagai Sport Tourism Promosikan Pariwisata
DPKP Tingkatkan Pemantauan Kesehatan Hewan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
SMAN 3 Kasongan Terima Dua Interactive Panel Display dan Starlink
Kholidin/Noviera Raih Perak para Panahan Asian Para Games 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







