BORNEONEWS, Palangka Raya -- Dari ujuh finalis yang berhak maju ke babak final dengan cara presentasi konsep desain untuk menjelaskan deskripsi filosofis dan penjelasan bangunan maskot,banyak yang peserta luar Palangka Raya. Nominator pertama hingga keempat berasal dari Tamiang Layang (Barito Timur), Muara Teweh (Barito Utara), Katingan, Kapuas, dan tiga terakhir barulah dari Palangka Raya.

Padahal laporan Ketua panitia, menetapkan kriteria peserta yang diharapkan aktif adalah pelajar dan mahasiswa dari sekolah dan perguruan tinggi di Kota Palangka Raya. Kemudian dari kalangan umum, harus melampirkan identitas KTP/SIM dengan alamat domisili  di Kota Palangka Raya.

Dari pantauan Borneonews, peserta yang melaju di babak final ini memang masih sangat muda. Mungkin karena inilah mereka lemah ketika menjelaskan filosofi atau makna yang dikandung dalam detail desain yang mereka buat sendiri.

Pernyataan juri desain maskot yang menyebut banyak peserta yang gugur justru saat lemah mendeskripsikan filosofi menjadi perhatian tersendiri, terutama oleh Wakil Walikota Palangka Raya,Mofit Saptono Subagio. Menurut dia, hal itu patut dijadikan catatan bagi dunia pendidikan di Kalteng umumnya dan Kota Palangka Raya khususnya.

“Tidak apa-apa banyak dari luar Kota Palangka Raya, yang penting desainnya itu mewakili ide yang diinginkan. Kedua, melihat dari peserta yang masih muda dan banyak pelajar ini, mengingatkan kita agar meningkatkan muatan lokal dalam pendidikan di sekolah-sekolah,” kata Wakil Walikota Palangka Raya Mofit Saptono yang ikut hadir menyaksikan beberapa penampilan finalis di Rumah Betang Tingang Nganderang. (ROZIKIN/m)