JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menyatakan bahwa kunjungan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dan Kepala Negara Vatikan, merupakan bukti kuat bahwa Indonesia menjaga nilai kebhinnekaan dengan sangat baik. Menurut Nasaruddin, kunjungan ini menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap keragaman yang ada di negara ini. Ia menegaskan, "Kunjungan Paus adalah pernyataan bahwa Indonesia benar-benar mengimplementasikan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)." Nasaruddin juga menyoroti karakter masyarakat Indonesia yang selalu menghargai dan menyambut dengan baik tamu yang datang, terlepas dari latar belakang agama mereka. "Ajaran Islam mengajarkan untuk menghargai setiap tamu, bahkan jika mereka non-Muslim," tambahnya. Lebih jauh, Nasaruddin mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga terkenal melakukan dialog dengan pemimpin dari berbagai agama, yang merupakan tradisi yang akan dilanjutkan dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Terowongan Silaturahmi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta pada tanggal 5 September. "Apa yang akan kita lakukan besok sejalan dengan tradisi yang telah dirintis Nabi. Kami berharap kunjungan ini akan menjadi peristiwa bersejarah," ujar Nasaruddin. Dia juga mencatat bahwa Paus Fransiskus menunjukkan ketertarikan besar untuk mengunjungi dan meninjau langsung terowongan yang menghubungkan kedua tempat ibadah tersebut, yang memiliki panjang 38,3 meter, tinggi 3 meter, dan lebar 4,1 meter. "Beliau sangat terkesan dan ingin menjelajahi terowongan itu lebih lanjut," ungkapnya. Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia merupakan yang ketiga kalinya bagi seorang pemimpin Gereja Katolik, setelah kunjungan Paus Paulus VI pada tahun 1970 dan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989. Penunjukan Indonesia sebagai negara pertama dalam rangkaian perjalanan apostolik ke Asia Pasifik pada bulan September 2024 menjadi suatu kehormatan tersendiri, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 279 juta jiwa, dengan mayoritas beragama Islam. Di sisi lain, terdapat sekitar 20,5 juta orang pemeluk Kristen, yang 8,5 juta di antaranya adalah umat Katolik. Kunjungan ini berlangsung antara tanggal 3 hingga 6 September 2024, dan dijadwalkan menjadi bagian dari perjalanan selama 11 hari yang mencakup beberapa negara lainnya, seperti Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Dengan demikian, perjalanan ini merupakan lawatan terlama bagi Paus berusia 87 tahun tersebut selama lebih dari satu dekade memimpin umat Katolik. ANTARA