JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa varian Clade Ib dari virus cacar monyet, yang lebih dikenal dengan sebutan *monkey pox* (Mpox), menunjukkan indikasi memiliki tingkat penularan yang lebih cepat serta keparahan yang lebih tinggi, termasuk di kalangan anak-anak. Dalam pernyataannya, kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menekankan pentingnya terus-menerus melakukan penelitian. Menurutnya, hal ini dibutuhkan agar dapat lebih memahami epidemiologi, transmisi, serta pengembangan vaksin atau terapi baru sebagai bagian dari upaya pengendalian Mpox di tanah air. Ia menegaskan, BRIN memiliki tanggung jawab dalam upaya pencegahan wabah dan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Indi menambahkan, Mpox terkait dengan beberapa clade, di antaranya Clade Ia, Clade Ib, dan Clade IIb. Clade Ia dianggap berhubungan dengan kasus yang terjadi pada anak-anak serta dewasa dengan tingkat keparahan klinis yang lebih berat. Di sisi lain, penularan Clade Ib dan Clade IIb sebagian besar terjadi melalui kontak seksual. Buntut dari penemuan varian Clade Ib di luar kawasan Afrika, pihak berwenang melakukan skrining ketat untuk mencegah penyebarannya. Untuk menekan jumlah kasus Mpox, pemerintah berupaya secara cepat dengan meningkatkan pemeriksaan kesehatan di pintu masuk negara. Selain itu, mereka mengaktifkan kembali pelacakan mobilitas pelaku perjalanan menggunakan aplikasi SATUSEHAT Health Pass. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil keputusan untuk mengaktifkan kembali sistem deteksi dini penyakit menular. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kemungkinan impor penyakit Mpox ke dalam negeri. Upaya tersebut merupakan bagian dari strategi surveilans yang diambil pemerintah dalam menanggapi kemunculan strain Mpox terbaru, yaitu strain 1B, yang diperkirakan lebih berisiko fatal dibandingkan dengan strain sebelumnya, yaitu strain 2B. Budi menjelaskan bahwa tingkat fatalitas strain 1B lebih tinggi, di mana dapat mencapai hampir 10 persen, sedangkan strain sebelumnya hanya berkisar di angka 0,1 persen. Untuk itu, metode Electronic Surveillance Card akan diterapkan, mirip dengan aplikasi *Pedulilindungi* yang digunakan selama pandemi COVID-19. Setiap individu yang tiba dari luar negeri perlu memindai kode batang atau QR code yang merekam riwayat perjalanan mereka, yang dilengkapi dengan notifikasi berwarna kuning, hijau, dan merah sebagai indikator status kesehatan. Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan dua unit mesin PCR yang mampu mendeteksi gejala Mpox dalam waktu 30-40 menit. Mesin tersebut akan ditempatkan di Jakarta, Cengkareng, dan Bali untuk mempercepat proses deteksi dan penanganan kasus. ANTARA