**Borneonews - Jakarta**, Direktur Utama Padigital sekaligus Ketua Dewan Pakar Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), Pamrihadi Wiraryo menyatakan bahwa terjadinya anomali pada harga gabah disebabkan oleh panen raya yang melimpah di berbagai daerah. Dia menjelaskan bahwa penurunan harga gabah, terutama di Sulawesi Selatan, merupakan tanda bahwa produksi padi berada dalam kondisi yang sangat baik.
Pamrihadi menekankan bahwa penurunan harga yang sedang terjadi mencerminkan surplus produksi dalam negeri. Ironisnya, periode Agustus dan September biasanya ditandai dengan penurunan produksi, yang sering kali berdampak pada pasokan ke pasar dan menyebabkan harga beras melambung tinggi. Oleh karena itu, situasi ini dianggap luar biasa.
Dia mengapresiasi usaha para petani yang terus bekerja keras meskipun menghadapi kekeringan panjang akibat gelombang panas yang ekstrem. Selain itu, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang telah mengadopsi program pompanisasi secara menyeluruh di seluruh pelosok tanah air, demi mendukung para petani dalam meningkatkan hasil produksi mereka.
Pamrihadi melanjutkan, fenomena penurunan harga ini menjadi suatu kejanggalan, terutama mengingat bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi kekeringan yang berkepanjangan. Kekeringan ini telah menciptakan tantangan besar bagi para petani, dan biasanya berpotensi menyebabkan kegagalan panen serta lonjakan harga beras pada musim kering.
Kondisi yang terpantau di lapangan menunjukkan terjadinya penurunan harga, yang memang konsisten dengan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, di Provinsi Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Sidrap dan Pare Pare, harga gabah kering panen (GKP) tercatat sekitar Rp6.000 per kilogram. Di daerah lain seperti Sumatera Selatan dan Lampung, harga gabah berada di kisaran Rp6.800 per kg, meskipun di Pulau Jawa mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp7.000 per kg.
Pamrihadi menambahkan bahwa penggilingan padi di Pulau Jawa berharap harga GKP dapat turun menjadi Rp6.500, untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat harga saat ini. Sementara itu, menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, terjadi penurunan harga gabah di tingkat petani sebesar 1,15 persen dibanding bulan sebelumnya, tetapi mengalami kenaikan 10,10 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Pudji menjelaskan bahwa penurunan harga beras ini terlihat di seluruh wilayah Indonesia, yang mencakup berbagai jenis kualitas beras, baik medium maupun premium. Kenaikan harga yang terjadi di beberapa daerah disebabkan karena pada umumnya wilayah tersebut tidak sedang dalam masa panen raya.
Survei yang dilakukan mencakup 1.853 observasi transaksi penjualan gabah di 26 provinsi, di mana 89,21 persen observasi menunjukkan kualitas GKP dan Gabah Kering Giling (GKG) memiliki 11,07 persen harga di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi pertanian melalui program perluasan areal tanam (PAT) serta pompanisasi, sebagai langkah cepat untuk meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pompanisasi menjadi solusi efisien dalam memperluas lahan pertanian di tengah tantangan kekeringan.
Amran juga percaya bahwa melalui program tersebut, Indonesia akan dapat meningkatkan produksinya secara maksimal. Dia menyampaikan terima kasih kepada para petani yang telah berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri di tengah masa-masa sulit yang penuh tantangan.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Moch. Arief Cahyono, menyampaikan bahwa fenomena anomali harga gabah ini memberi harapan bagi petani dan masyarakat, terutama karena panen raya berlangsung meskipun di tengah musim kemarau panjang. Anomali ini diakui baru terjadi tahun ini setelah pemerintah melaksanakan program pompanisasi, optimasi lahan, dan PAT yang dianggap sebagai penggerak utama keberhasilan dalam menciptakan peningkatan produksi pangan di Indonesia.
Dia mengungkapkan bahwa perubahan ini merupakan hal yang signifikan, dan belum pernah terjadi selama lebih dari 30 tahun terakhir, bahkan sejak Indonesia merdeka. Dengan data dari BPS yang menunjukkan hasil ini, Arief meyakini bahwa program serta kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil produksi bahkan di tengah musim kemarau yang sulit.
ANTARA
Anomali Harga Gabah, Produksi Padi Melimpah di Tengah Kekeringan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Indonesia Lampaui Target Emas Asian Para Games 2026
Rian/Daniel ke Final Kudus Indonesia Masters Usai Menang Tiga Gim
Kemnaker Umumkan Syarat dan Cara Daftar Pelatihan Vokasi Korban PHK
MILLS Luncurkan Koleksi Musim Panas 2027 Bertajuk Next Inheritance
Pangkoops: Dua Anggota KKB Tewas Saat Kontak Tembak di Nduga
Komentar (0)
Memuat komentar…







