BANTEN –
**Borneonews - Rangkasbitung**, Sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten, kini tengah giat mengembangkan tanaman cabai merah keriting. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Rangkasbitung yang terus meningkat. Roup, seorang petani berusia 50 tahun yang berasal dari Cikulur, menyatakan bahwa pengembangan cabai merah keriting dilakukan karena tingginya permintaan dari pedagang di pasar setempat. Ia mengungkapkan, lahan yang digunakan untuk menanam cabai merah keriting ini seluas 5.000 meter dan mereka memperkirakan akan mulai memanen pada bulan Oktober hingga November 2024. Benih unggul cabai merah keriting yang dipilih merupakan varietas dari Jawa Tengah. Durasi pemeliharaan untuk mencapai masa panen berkisar antara 85 hingga 120 hari setelah penanaman. Berkat ketahanan benih tersebut terhadap hama dan penyakit, diharapkan hasil panen dapat memuaskan. "Saya berharap tanaman cabai merah keriting ini dapat menghasilkan keuntungan, dengan harga diproyeksikan sekitar Rp40 ribu per kilogram," katanya. Ia menambahkan bahwa dari lahan seluas itu, potensi produksi cabai merah keriting bisa mencapai tiga ton. Bila harga rata-rata bertahan di kisaran Rp40 ribu, pendapatan petani dapat mencapai Rp120 juta. Roup juga menyatakan bahwa mereka sudah terbiasa menghadapi fluktuasi harga cabai merah keriting, yang sering mengalami kenaikan maupun penurunan. Senada dengan itu, Suhari, seorang petani lain berusia 55 tahun dari Warunggunung, menegaskan bahwa dirinya juga terjun dalam pertanian cabai merah keriting karena tingginya permintaan pasar. Ia mampu memasok hingga dua ton cabai merah keriting setiap minggu. Namun, Suhari mencatat saat ini harga cabai merah keriting mengalami penurunan menjadi Rp30 ribu per kilogram di tingkat petani. Hal ini disebabkan oleh pasokan dari berbagai daerah yang sedang panen. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menjelaskan bahwa banyak petani di daerah tersebut berpindah dari tanaman pangan ke sayuran seperti cabai merah saat musim kemarau. Ini karena tanaman sayuran, termasuk cabai, tidak memerlukan banyak air. "Dalam musim kemarau, para petani dapat memasok sayuran dan cabai merah hingga puluhan ton setiap harinya ke pasar-pasar tradisional di Banten dan DKI Jakarta, dengan perputaran uang mencapai ratusan juta setiap harinya," tutur Deni. ANTARA