JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari sistem *Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat* (EPPGBM), saat ini terdapat potensi stunting pada balita sebesar 18,7 persen. Data ini diperoleh dari pengukuran serentak yang dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) mengenai Penurunan Stunting, yang diadakan di Jakarta, Muhadjir menjelaskan bahwa hasil pengukuran tersebut merupakan langkah penting dalam menyusuri dan mengatasi masalah gizi buruk yang mempengaruhi anak-anak di tanah air. Ia menekankan bahwa angka prevalensi stunting yang tercatat sudah berhasil diturunkan di bawah 20 persen, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh *World Health Organization* (WHO). Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa dalam rangka mengatasi stunting, pada bulan Juni 2024 dilakukan pengukuran dan intervensi pencegahan secara bersamaan. Terlibat dalam kegiatan ini adalah 300.188 posyandu yang berhasil mengukur jumlah balita dengan angka mencapai 16.381.852 jiwa. Hal ini menjadi indikator positif adanya perhatian yang lebih terhadap kesehatan anak. Muhadjir menambahkan bahwa data yang diperoleh dengan metode *by name by address* (berdasarkan nama dan alamat) menjadi sangat penting untuk merencanakan intervensi gizi dengan lebih tepat. Dia berharap ke depan, semua pemangku kepentingan dapat lebih fokus kepada kategori yang benar-benar berpotensi mengalami stunting. Pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader posyandu juga disampaikan Muhadjir. Ia menggarisbawahi perlunya memperbaiki metode penimbangan dan pengukuran serta memperkuat kapasitas dari mereka yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan pengukuran dan intervensi serentak yang telah dilakukan, Muhadjir mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mencapai keberhasilan ini, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, sampai ke petugas posyandu serta TNI/Polri yang terlibat. Ia merasa bahwa kolaborasi ini merupakan kunci dari pencapaian yang diraih. Selanjutnya, Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'ruf Amin, dalam sambutannya pada pembukaan Rakornas tersebut, memberikan apresiasi atas prestasi yang diperoleh dalam menurunkan angka stunting dalam lima tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa prevalensi stunting telah turun dari 30,8 persen pada tahun 2018 menjadi 21,5 persen pada tahun 2023. Ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 9,3 persen dalam periode lima tahun, dengan rata-rata penurunan sebesar 1,85 persen per tahun. Langkah ini mencerminkan kecepatan penurunan yang lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya antara tahun 2013 dan 2018. ANTARA