JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menyatakan pentingnya pembentukan Angkatan Siber sebagai matra keempat dalam struktur Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyataan ini disampaikan karena peran penting yang dimainkan oleh siber dalam konteks pertahanan negara. Budi Arie menegaskan bahwa di masa mendatang, kemungkinan besar peperangan tidak akan terjadi dalam bentuk fisik, melainkan akan berlangsung di ranah siber. Hal ini menunjukkan perkembangan tren yang signifikan dalam metode dan strategi pertahanan global. "Siber telah menjadi fokus perhatian di seluruh dunia dalam konteks pertahanan negara," ujar Budi di Komplek Parlemen, Jakarta, pada hari Rabu. Ia menambahkan bahwa Indonesia, sebagai negara besar, harus fokus pada penguatan pertahanan siber. Negara-negara maju telah menyiapkan sistem pertahanan siber untuk memitigasi ancaman perang yang tidak bersifat fisik. "Negara seperti Singapura telah memiliki Angkatan Siber sebagai matra keempat pertahanannya. Dengan ukuran dan kompleksitas negara kita, jelas bahwa kita memerlukan *cyber defence* yang tangguh," ungkapnya. Hal ini menunjukkan kesadaran akan perlunya kesiapan di arena siber yang semakin relevan di era modern. Sebelumnya, Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, juga mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima mandat dari Presiden Joko Widodo untuk segera membentuk Angkatan Siber sebagai matra keempat dalam TNI. "Kemarin, saat pidato di MPR, Presiden secara langsung memerintahkan saya untuk mewujudkan TNI Angkatan Siber," ungkap Agus seusai mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, pada hari Selasa. Agus menjelaskan bahwa saat ini, TNI sudah memiliki satuan siber, namun ketahanan dan efektivitas satuan tersebut sangat tergantung pada kualitas serta kemampuan sumber daya manusia yang terlibat. Dengan demikian, pengembangan kompetensi di bidang siber menjadi sangat vital untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. ANTARA