PONTIANAK –
**Borneonews - Sambas**, Petani di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, berkomitmen untuk terus mengembangkan budidaya jeruk dengan memanfaatkan teknologi Modifikasi Ramli Gapura (Moraga). Teknologi ini memungkinkan jeruk berbuah sepanjang tahun, atau bahkan setiap bulan, sehingga memberikan peluang bagi peningkatan produksi yang signifikan. Bupati Sambas, Satono, menjelaskan bahwa teknologi Moraga yang dikembangkan oleh petani setempat, berawal dari Desa Gapura, kini telah menyebar ke berbagai desa lainnya. Dengan perawatan yang optimal, praktik budidaya ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, termasuk panen perdana di Desa Merpati. Ia menggarisbawahi bahwa jeruk merupakan salah satu komoditas khas dari Kabupaten Sambas yang perlu dilestarikan oleh pemerintah dan para petani. Dalam acara panen yang dihadiri banyak orang di kebun milik Kepala Desa Adi Saputra, Bupati Satono mengungkapkan rasa bangganya terhadap hasil yang dicapai. Panen yang dilaksanakan secara kolektif ini diharapkan dapat menginspirasi petani jeruk lainnya. Satono menekankan bahwa tanah subur di wilayah ini, ketika dikelola oleh orang yang memahami cara bertani, dapat menghasilkan jeruk dengan kualitas yang luar biasa. Ia juga berharap bahwa semakin banyak petani jeruk yang sukses akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Menurutnya, masyarakat yang ingin membeli jeruk berkualitas dapat mendatangi Desa Merpati, sebagai lokasi hasil kerja keras para petani sukses. Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa produksi jeruk siam atau keprok pada tahun 2023 mencapai 110.934 ton dengan kontribusi 88.119 ton dari Kabupaten Sambas. Untuk Triwulan II 2024, produksi jeruk di Kalimantan Barat tercatat sebesar 56.587 ton, sementara Kabupaten Sambas menyumbang 46.098 ton. ANTARA