BOGOR –
**Borneonews - Depok**, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) mengemukakan pentingnya mempersiapkan generasi *silver* yang aktif serta sejahtera untuk mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045. Dalam paparannya, Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo, seorang peneliti senior di Lembaga Demografi FEB UI, menekankan bahwa seiring bertambahnya usia, para lansia berisiko mengalami penurunan kapasitas fungsional. Hal ini sering kali diperparah oleh munculnya penyakit tidak menular akibat gaya hidup yang tidak sehat sejak dini. Konsekuensi dari masalah ini adalah meningkatnya kebutuhan akan perawatan jangka panjang atau *long-term care* (LTC), yang dapat memberikan beban yang signifikan baik bagi keluarga maupun pemerintah. Biaya LTC mencakup beragam aspek, termasuk biaya medis, biaya non-medis, biaya perawatan, serta biaya sosial lainnya. Prof. Sri kemudian menawarkan beberapa alternatif untuk pendanaan LTC, antara lain melalui sistem asuransi sosial, *Universal Coverage Tax Funded System*, dan *Safety Net Tax-Funded System*. Dia menggarisbawahi bahwa kebijakan LTC di beberapa negara tidak selalu terintegrasi dalam kerangka jaminan kesehatan universal. Sebagai contoh, negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah mengembangkan skema asuransi sosial yang khusus untuk memenuhi kebutuhan ini. Dia menambahkan, di Jerman, klien LTC diharuskan untuk menyumbang hingga 21,4 persen dari total biaya, sedangkan di Jepang kontribusinya mencapai 10 persen. Penjelasan tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk “Generasi Silver Aktif dan Sejahtera pada Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan oleh Lembaga Demografi FEB UI. Kegiatan ini juga menandai momen penting karena Lembaga Demografi tersebut telah berfungsi selama enam dekade dengan membahas isu-isu terkini yang dihadapi oleh generasi silver dan berbagai tantangan yang harus diatasi untuk menuju Indonesia Emas pada tahun 2045. Dalam seminar tersebut, Wakil Menteri Keuangan I Republik Indonesia, Prof. Suahasil Nazara, S.E., M.Sc., Ph.D., turut hadir sebagai narasumber dan menyoroti betapa pentingnya mendukung pertumbuhan usia produktif melalui kebijakan pemerintah yang menyeluruh, mulai dari fase prenatal hingga lanjut usia. Dia berpendapat bahwa keberhasilan pada masa produktif memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup individu di usia senja. “Investasi di bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial yang adaptif, serta reformasi sistem pensiun sangat penting untuk mewujudkan *silver demographic dividend* yang berkelanjutan,” jelas Prof. Suahasil, yang juga merupakan alumni dari FEB UI. Selain itu, acara ini dihadiri oleh beberapa narasumber terkemuka lainnya, termasuk Kepala Institute of Advanced Studies in Economics and Business (IASEB) FEB UI, Turro Selrits Wongkaren, Ph.D., dan Manajer Program Perlindungan Sosial dari International Labour Organization, Ippei Tsuruga. Kegiatan seminar ini juga dihadiri oleh berbagai pejabat pemerintah yang berkaitan dengan isu dan kebijakan bagi lansia, akademisi, peneliti yang memahami masalah ini, serta pemangku kepentingan lain yang memiliki perhatian terhadap permasalahan lansia. ANTARA