SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) memperkenalkan inovasi pembelajaran mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bagi anak usia dini melalui kearifan lokal 'Bakesah'.

Ide tersebut dituangkan dalam proposal program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pembelajaran mitigasi bencana yang pertama kali diimplementasikan di TK Diniayatul Hidayah Sampit ini untuk menanamkan kesadaran lingkungan dan memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang cara hidup sehat saat terjadi kabut asap, yang sering melanda Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sekelompok mahasiswa UMSA yang terdiri dari 4 orang yaitu M Jumawan, Rizki Alysa, Hana Humaira, dan Rusydan Zahir Ajala memilih kearifan lokal bakesah yang artinya bercerita untuk mengedukasi anak usia dini agar pembelajaran lebih bermakna. Bakesah sendiri merupakan tutur tradisi Suku Banjar untuk mencapai cerita tanpa bermaksud menggurui.

Dengan memadukan ide tersebut, mereka membuat sebuah buku untuk memberikan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak agar mereka mampu menanggulangi dampak kabut asap.

"Kami menggunakan metode cerita yang dipadukan dengan media menarik seperti boneka tangan, sosial drama, dan karya wisata ke pemadam kebakaran. Ini untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan sejak dini," kata M Jumawan.

Ia menambahkan, anak-anak merupakan kelompok yang rentan terkena dampak psikologis dan kesehatan saat bencana kabut asap terjadi.

Masyarakat seringkali menganggap hal ini remeh. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi mitigasi bencana sejak dini agar anak-anak siap menghadapi situasi ini dengan pengetahuan yang memadai.

Ia berharap program ini bisa menjadi model pendidikan yang diterapkan di seluruh satuan pendidikan anak usia dini di Kotim.

"Kami telah mencetak buku yang bisa digunakan oleh sekolah-sekolah TK di Kotawaringin Timur secara mandiri. Buku ini dilengkapi dengan panduan materi dan bahan-bahan yang perlu dipersiapkan saat melakukan edukasi bencana, sehingga guru TK bisa melakukan pembelajaran secara lebih mandiri," tandasnya.

Sementara itu, Gita Anggraini selaku dosen pembimbing keempat mahasiswa tersebut mengatakan, program kreativitas ini selain lolos pendanaan juga menjadi satu-satunya dari Kalimantan Tengah yang berhasil melaju ke Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) ke-37 di Universitas Airlangga.

"Pimnas ini meruakan puncak dari program kreativitas mahasiswa yang sebelumnya diminta membuat proposal dan jika lolos seleksi, mereka mendapatkan dana untuk melaksanakan kegiatan. Ada berbagai jenis kegiatan dalam PKM ini, termasuk riset, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, dan lain-lain. Kebetulan, mahasiswa kami yang lolos Pimnas 2024 ini bergerak dibidang pengabdian masyarakat," kata Gita.

Mitigasi bencana karhutla bagi anak usia dini sangat relevan mengingat bencana ini hampir terjadi setiap tahun di Kotim. Kementerian Pendidikan sendiri telah menekankan pentingnya pendidikan mitigasi bencana bagi anak usia dini agar dampak bencana dapat diminimalisir.

"Oleh karena itu, program kreativitas mahasiswa UMSA yang berfokus pada mitigasi bencana dengan metode 'Bakesah' ini sangat tepat. Di sisi lain program ini diharapkan bisa menjadi salah satu penunjang dokumen Kabupaten Layak Anak," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)