JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Bambang Soesatyo, menekankan bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia adalah suatu kehormatan yang menunjukkan sikap toleransi yang tinggi di negara ini. Kegiatan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa Indonesia mengedepankan kebebasan beragama dan selalu mendukung dialog antarumat untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keragaman. Menurut Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, kehadiran pemimpin umat Katolik dunia tersebut menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga toleransi. Ia menyatakan, "Kehadiran Paus membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan beragama dan selalu terbuka untuk dialog antarumat demi kehidupan yang damai." Pernyataan itu disampaikan setelah ia mendampingi Presiden Joko Widodo dan sejumlah pemimpin lembaga tinggi negara lainnya di Istana Negara, Jakarta, saat kedatangan Paus Fransiskus pada Rabu lalu. Dia juga mengingatkan bahwa tujuan untuk mewujudkan kedamaian adalah pesan universal yang dihargai setiap agama. "Kedamaian merupakan kebutuhan bagi setiap umat dalam hidup berdampingan. Dalam konteks yang lebih luas, kedamaian dianggap sebagai titik temu yang merayakan perbedaan, mengingat bahwa dunia kita dipenuhi dengan keragaman yang tidak mungkin diseragamkan," ujarnya. Bamsoet menambahkan, moderasi dalam beragama kini menjadi isu global yang mencuat dari tantangan kebebasan beragama yang dihadapi akibat intoleransi. Ia juga mengungkapkan pentingnya Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November, yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Hari ini harus dihadapi secara kolektif oleh komunitas internasional, mencerminkan kenyataan bahwa intoleransi di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam beragama, merupakan ancaman serius." Lebih lanjut ia menjelaskan, bangsa Indonesia telah lama mengedepankan nilai-nilai kemajemukan, dimulai sejak berdirinya negara. Tercatat, enam agama resmi diakui dan banyak aliran kepercayaan diberikan ruang untuk berkembang. "Dengan keberagaman ini, moderasi dalam kehidupan keagamaan menjadi kunci untuk mencapai harmoni dan kerukunan antarumat," tambahnya. Walaupun demikian, ia memastikan bahwa moderasi beragama tidak berarti mengesampingkan ajaran yang terkandung dalam agama itu sendiri. Justru, katanya, inti dari nilai-nilai agama adalah untuk menjaga dan memperkuat hubungan silaturahmi yang harmonis serta menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Ia menjelaskan, di Indonesia, hubungan antara agama dan negara telah dibangun dengan cara yang khas. Negara ini bukanlah negara yang didasarkan pada satu agama tertentu, tetapi juga bukan negara sekuler. "Negara kita berdasar pada nilai Ketuhanan Yang Maha Esa," imbuhnya. Selain Presiden Joko Widodo dan Bambang Soesatyo, hadir juga sejumlah pemimpin lembaga negara lainnya dalam pertemuan tersebut, di antaranya Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua Mahkamah Agung Syarifuddin, Ketua Komisi Yudisial Amzulian Rifai, serta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. ANTARA