**Borneonews - Jawa Barat**, Sebuah kebakaran yang cukup signifikan terjadi di kawasan hutan taman wisata Gunung Tangkuban Perahu, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Subang, Jawa Barat. Peristiwa ini terlihat oleh petugas pos pengamatan gunung api yang merupakan bagian dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Rabu.
Kepala Badan Geologi, M Wafid, menyampaikan informasi tersebut kepada publik, menegaskan bahwa kebakaran ini teridentifikasi melalui kamera pengawas yang berada di pos pengamatan Gunung Api Tangkuban Perahu. Dalam beberapa jam sebelumnya, petugas menemukan adanya asap putih dan nyala api yang berwarna merah, yang terdeteksi di lokasi sekitar kawah baru dan dekat dengan area bernama Upas Hills.
Wafid menambahkan bahwa pengelola wisata alam Gunung Tangkuban Perahu, PT GRPP, dan warga setempat telah mengonfirmasi bahwa peristiwa kebakaran yang terjadi berada pada titik lokasi yang sama seperti yang dilihat melalui pantauan kamera. Meskipun demikian, lokasi kebakaran yang lebih rinci belum dapat ditentukan. Saat ini, masyarakat bersama dengan pihak-pihak terkait masih berupaya memadamkan api yang berkobar di area tersebut.
Badan Geologi menjamin bahwa kebakaran ini tidak akan mengganggu kinerja stasiun pemantauan gunung api Tangkuban Parahu, karena jaraknya yang cukup jauh dari lokasi kebakaran. Untuk kondisi gunung dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut ini, statusnya dapat dikatakan normal.
Keberadaan normalitas tersebut didasarkan pada pemantauan visual yang menunjukkan bahwa kondisi Kawah Ratu dan Kawah Ecoma tidak memperlihatkan adanya anomali, termasuk pada hembusan asap kawah. Pemantauan dilakukan sebelumnya pada pukul 14:27 WIB.
Aktivitas vulkanik di Gunung Tangkuban Parahu saat ini lebih didominasi oleh aktivitas gempa berfrekuensi rendah, yang mengindikasikan adanya pergerakan fluida di wilayah kedalaman dangkal atau dekat permukaan. Sementara itu, jenis gempa vulkanik yang berkaitan dengan suplai magma belum menunjukkan tingkat kejadian yang signifikan, dengan rata-rata kurang dari satu kejadian per hari.
Dalam hal pemantauan deformasi yang dilakukan menggunakan perangkat *Tiltmeter* dan *Electronic Distance Measurement* (EDM), hasil observasi bulan ini menunjukkan tidak adanya pola peningkatan tekanan yang signifikan dari bawah permukaan, yang dapat ditandai dengan respon perubahan bentuk pada tubuh Gunung Tangkuban Parahu.
ANTARA
Kebakaran Hutan Tangkuban Perahu, Status Gunung Tetap Normal
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kemenpar Harap Sepak Bola Sebagai Sport Tourism Promosikan Pariwisata
DPKP Tingkatkan Pemantauan Kesehatan Hewan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
SMAN 3 Kasongan Terima Dua Interactive Panel Display dan Starlink
Kholidin/Noviera Raih Perak para Panahan Asian Para Games 2026
Petani Tradisional Dituding Sebabkan Karhutla, Akademisi Ilmu Pertanian Angkat Suara
Komentar (0)
Memuat komentar…







