JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), dr. Rozana Nurfitri Yulia M Gizi Sp GK, menyampaikan bahwa seiring bertambahnya usia, khususnya setelah mencapai usia 30 tahun, fungsi organ tubuh mengalami penurunan dengan laju sekitar satu persen setiap tahun. Menginjak usia 60 tahun, penurunan tersebut dapat mencapai 30 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa, secara keseluruhan, tubuh hanya menyisakan sekitar 70 persen dari kapasitas normalnya. Penuaan ini adalah proses yang alami dan tidak dapat dihindari. Lebih dalam, dr. Rozana menjelaskan bahwa salah satu area yang terdampak oleh penuaan adalah sistem saluran cerna. Terutama, kemampuan organ pengecap untuk merasakan rasa mulai mengalami penurunan. Kepekaan kuncup dan papil pengecap berkurang, sehingga kemampuan dalam mendeteksi berbagai rasa juga mengalami penurunan. Sebagai tambahan, produksi air liur atau *saliva* pada individu lanjut usia juga berkurang. Situasi ini berdampak pada kemampuan mereka dalam mengunyah dan menelan makanan, karena fungsi alami pencernaan yang dipengaruhi oleh berkurangnya air liur. Pada aspek esofagus, gangguan terhadap kontraksi juga dapat muncul, yang berujung pada kesulitan dalam menelan. Di sisi lain, fungsi lambung juga mengalami penurunan, ditandai dengan pengurangan sekresi asam klorida (HCl), yang penting untuk bioavailabilitas mineral, vitamin, dan protein. Tak hanya itu, penurunan fungsi juga terjadi pada hati dan empedu. Ukuran hati dan empedu cenderung menyusut, sementara aliran darah yang mengalir ke organ tersebut juga mengalami pengurangan. Ini menyebabkan gangguan dalam sintesis albumin, sebuah protein penting dalam darah. Dr. Rozana juga mencatat bahwa beberapa enzim yang berkaitan dengan metabolisme mengalami penurunan, sehingga dalam banyak kasus, dosis obat bagi lansia perlu dikurangi mengingat kapabilitas organ yang juga berkurang. Selain itu, perubahan fungsi usus dengan berkurangnya gerakan usus dapat memicu masalah dalam buang air besar, terutama pada individu yang kurang mengonsumsi cairan. Perubahan ini dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan bakteri yang tidak menguntungkan, yang pada gilirannya berdampak pada ketersediaan vitamin larut air dan vitamin K. Melihat fakta ini, dr. Rozana menekankan betapa pentingnya menjaga keseimbangan asupan gizi harian, yang meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan cairan. Asupan ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan tiap individu. Terakhir, ia mengingatkan bahwa kebutuhan akan cairan menjadi sangat signifikan. Pada usia lanjut, rasa haus cenderung berkurang. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa kebutuhan cairan harian terpenuhi, yang idealnya adalah 30 mL per kilogram berat badan. Hal ini untuk menghindari risiko dehidrasi yang umum dialami oleh orang lanjut usia. ANTARA