**Borneonews - Jakarta**, Inovasi di bidang pendidikan vokasi terus tumbuh dan berkembang, salah satunya terlihat dari upaya Giovani Ega dan rekan-rekannya dalam penelitian mengenai kerusakan bantalan rel kereta api yang sering dilalui oleh kereta pengangkut batu bara. Keprihatinan ini melatarbelakangi penelitian yang dilakukan untuk mempelajari dampak getaran pada rel kereta.
Gio, sapaan akrabnya, mengenang momen ketika ia yang masih berstatus mahasiswa di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) diundang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menyelidiki penyebab kerusakan pada bantalan kereta. Pada saat itu, belum jelas apakah kerusakan tersebut disebabkan oleh kelebihan muatan atau merupakan hasil dari usia rel yang sudah tua.
Dalam penelitian tersebut, Ega mengembangkan perangkat yang mampu memantau kondisi rel dan performa kereta saat melaju. Alat yang ia ciptakan disebut *Instrumented Railway Vibration* (IRV), yang berfungsi untuk mendeteksi kerusakan baik pada rel maupun pada gerbong kereta. Ia menjelaskan, "prinsip kerjanya sederhana; setiap pergerakan atau kerusakan yang terjadi dapat terdeteksi melalui getarannya."
Alat yang dipasang pada bantalan rel ini mampu merekam data getaran, suara, dan lokasi, kemudian menyimpan data tersebut di sistem komputasi awan. Informasi yang terkumpul memungkinkan pihak yang bertanggung jawab untuk menentukan waktu dan lokasi yang tepat untuk penggantian rel, karena perangkat ini terintegrasi dengan *Global Positioning System* (GPS). "Alat ini juga dapat diletakkan pada gerbong kereta untuk mendeteksi kerusakannya," tambahnya.
Sejak pengembangannya pada 2020, alat ini telah diuji di berbagai jalur rel di Pulau Jawa. Setelah melakukan pengujian dan kalibrasi sensor, alat ini kemudian diuji di Pulau Sumatera. Saat ini, proses pengembangan alat telah memasuki tahap keempat.
Evang berharap alat deteksi kerusakan rel dan gerbong ini dapat diujicobakan untuk moda transportasi Lintas Raya Terpadu (*LRT*) pada bulan Oktober mendatang. Ia berkeyakinan bahwa inovasi ini akan berkontribusi signifikan terhadap keselamatan penumpang kereta api, seiring dengan terus berkembangnya moda transportasi kereta di Indonesia.
Selain UGM, mahasiswa dan dosen dari Politeknik Negeri Semarang (Polines) juga menciptakan inovasi terkini, yaitu alat yang mampu memantau parameter di tanaman hidroponik menggunakan teknologi *Internet of Things* (*IoT*) yang dinamakan Monik.
Dengan alat ini, petani dapat mengetahui waktu yang tepat untuk memberikan nutrisi kepada tanaman hidroponik, serta ukuran yang sesuai untuk pemberian tersebut. Dosen Teknik Elektro Polines, Tahan Prahara, menjelaskan bahwa alat tersebut bisa secara otomatis mengendalikan waktu ketika pompa harus dihidupkan, sehingga pertumbuhan tanaman berjalan dengan optimal.
"Kami memerlukan waktu enam bulan untuk merangkai sensor, melakukan uji sistem di laboratorium dan bengkel, serta implementasi di lapangan," kata Tahan. Kini alat tersebut telah diadopsi oleh sejumlah petani hidroponik di Semarang dan daerah sekitarnya, dengan harapan produk ini bisa terus berkembang dan bermanfaat bagi para petani.
Inovasi menarik lainnya juga diperkenalkan pada acara HEPCON 2024 oleh Politeknik Negeri Madura (Poltera). Inovasi tersebut berupa mesin penggerak bertenaga listrik yang dipasang pada buritan kapal kecil. Dosen Poltera, Bayu Praharsena, menjelaskan bahwa inovasi yang dinamakan eMOTION ini menawarkan solusi navigasi yang ramah lingkungan, tanpa mengorbankan performa kapal.
Perangkat eMOTION dirancang untuk memberikan daya dorong yang dapat diatur sesuai dengan kecepatan yang diinginkan dan dilengkapi teknologi canggih. Alat ini juga sangat cocok digunakan di area konservasi dan pariwisata laut, karena mampu mengurangi polusi suara dan udara. "Dengan mesin yang senyap dan minim getaran, pengalaman berkendara menjadi lebih nyaman," ungkapnya.
Pengembangan mesin kapal ini sedang memasuki tahap kedua. Dalam tahap pertama, mereka berhasil menciptakan mesin penggerak dengan kapasitas 20 kilowatt (KW) melalui riset selama delapan bulan. Pada pengembangan ini, mereka menerapkan *blueprint* dari riset sebelumnya untuk meningkatkan daya mesin.
HEPCON 2024 yang diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 29 hingga 31 Agustus lalu, menjadi ajang yang tepat untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan di era digital. Acara ini diharapkan dapat menjadi wadah inklusif bagi institusi pendidikan tinggi, dunia usaha, dan asosiasi sekolah untuk saling berbagi informasi, serta menciptakan solusi inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
ANTARA
Inovasi Pendidikan Vokasi, Deteksi Kerusakan Kereta dan Pertanian
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Polres Barito Timur Kerahkan 38 Personel Padamkan Karhutla di Murutuwu
Veda Ega Sebut Tugasnya Belum Usai Setelah Berada di Pole Position
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Indonesia Lampaui Target Emas Asian Para Games 2026
Rian/Daniel ke Final Kudus Indonesia Masters Usai Menang Tiga Gim
Kemnaker Umumkan Syarat dan Cara Daftar Pelatihan Vokasi Korban PHK
Komentar (0)
Memuat komentar…







