**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menekankan pentingnya perhatian serius terhadap ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis (*KEK*). Intervensi spesifik diperlukan untuk mencegah terjadinya stunting pada anak-anak yang dilahirkan.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting yang berlangsung di Jakarta, Muhadjir menyoroti beberapa langkah intervensi yang harus diperhatikan. Beberapa indikator penting yang perlu diperhatikan meliputi pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan anak balita, pemberian makanan tambahan (*PMT*) kepada balita dengan kondisi gizi yang kurang, serta pemberian imunisasi dasar yang lengkap.
Muhadjir juga mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan mengenai sembilan layanan intervensi spesifik selama triwulan kedua tahun 2024, terdapat dua indikator yang sudah berada pada jalur yang benar. Indikator tersebut mencakup ibu hamil yang mengonsumsi tablet tambah darah dan anak-anak berusia 6-23 bulan yang menerima makanan pendamping ASI (*MPASI*).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dari sebelas layanan intervensi sensitif yang berfungsi sebagai faktor pendukung di luar kesehatan, terdapat tiga indikator yang telah menunjukkan kemajuan. Indikator-indikator tersebut adalah kehamilan yang direncanakan, keluarga miskin dan rentan yang mendapat bantuan tunai bersyarat, serta pemahaman masyarakat tentang stunting yang baik.
Namun, Muhadjir menjelaskan masih ada beberapa indikator yang membutuhkan perhatian lebih. Pertama, perlu dilaksanakan skrining kesehatan bagi calon pasangan usia subur (*PUS*). Kedua, penerapan program kontrasepsi atau *KB* pascapersalinan. Ketiga, dukungan bagi keluarga yang berisiko mengalami stunting, dan keempat, penanganan masalah buang air besar sembarangan di tingkat desa atau kelurahan.
Menteri Koordinator tersebut menegaskan ada beberapa isu kunci yang harus menjadi fokus bersama dalam upaya percepatan penurunan stunting. Pertama, pentingnya integrasi program-program dari berbagai sektor agar saling mendukung. Kedua, mempercepat pemberian intervensi di posyandu, puskesmas, dan sejumlah fasilitas kesehatan lainnya.
Ketiga, pemerintah daerah diharapkan memastikan semua layanan kesehatan di wilayah mereka berfungsi dengan optimal dalam memberikan intervensi gizi yang diperlukan, serta didukung oleh logistik yang memadai.
Muhadjir menambahkan perlunya perhatian pada ketersediaan makanan tambahan yang dapat mendukung pemulihan, serta vitamin dan obat-obatan yang esensial dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (*SKI*) 2023, terdapat peningkatan signifikan dalam prevalensi stunting pada kelompok anak berusia 6-23 bulan. Oleh karena itu, fokus terhadap intervensi bagi kelompok usia ini menjadi sangat penting.
Kualitas pemulihan *MPASI* harus diperhatikan, dengan penekanan pada konsumsi protein hewani dan variasi menu yang beragam, serta kelengkapan imunisasi. Aspek lingkungan seperti akses terhadap air yang bersih dan sanitasi yang layak juga harus diperhatikan. Terakhir, perlindungan sosial harus diberikan bagi keluarga yang rentan dan kurang mampu.
ANTARA
Pentingnya Intervensi Gizi bagi Ibu Hamil untuk Cegah Stunting
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Lewis Hamilton Tercepat dalam Sesi Latihan Bebas GP Amerika Serikat
Timnas Indonesia U15 Menang Telak atas Fiji, Hariri dan Dicky Dua Gol
Leo/Daniel Kandas di Semifinal French Open
Polres Barito Timur Kerahkan 38 Personel Padamkan Karhutla di Murutuwu
Veda Ega Sebut Tugasnya Belum Usai Setelah Berada di Pole Position
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







