JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Perum Bulog mengungkapkan bahwa terdapat dua hambatan utama dalam penyerapan beras lokal. Pertama adalah tingginya harga pasar yang ditetapkan, dan kedua adalah rendahnya kualitas beras yang dihasilkan oleh para petani. Dalam sesi rapat dengar pendapat yang berlangsung dengan Komisi IV DPR RI, Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, menyatakan bahwa pembelian beras lokal oleh Bulog terhambat oleh Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pada saat ini, HPP untuk beras ditetapkan sebesar Rp11.000 per kilogram, khusus untuk beras dengan tingkat *broken* maksimal 20 persen. Namun, menurut Bayu, harga beras di tingkat penggilingan saat ini telah mencapai Rp12.100 per kilogram. Hal ini membuat Bulog tidak dapat melaksanakan pembelian, karena harga yang lebih tinggi dari HPP. Bayu menambahkan bahwa jika Bulog melakukan pembelian beras lokal dalam skala besar, hal tersebut dapat berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Saat ini, beras merupakan salah satu komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi di Indonesia. Di samping masalah harga, kualitas beras juga menjadi faktor penghambat. Banyak beras yang dihasilkan oleh para petani memiliki kadar air yang tinggi sehingga tidak memenuhi standar yang telah ditentukan. Bayu menjelaskan bahwa menurut amanat Komisi IV DPR RI, Bulog dilarang menyalurkan beras berkualitas rendah. Kadar air yang tinggi menjadi salah satu faktor penentu dalam kualitas beras. Bulog memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk menilai kualitas beras. Kriteria tersebut termasuk kadar air maksimal 14 persen, butir patah atau *broken* maksimum 20 persen, serta butir menir maksimum 2 persen. Kadar air ini sangat penting dalam menilai mutu bahan pangan. Keberadaan air di dalam beras mempengaruhi sifat fisik seperti penampilan, tekstur, dan cita rasa. Selain itu, kadar air yang tinggi juga menjadi faktor utama penyebab pembusukan. Di momen yang sama, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menginformasikan bahwa realisasi pengadaan beras, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, hingga tanggal 2 September telah mencapai 3,56 juta ton. Pengadaan beras domestik tercatat mencapai 1,01 juta ton, yang terdiri atas cadangan beras pemerintah sebanyak 625.536 ton dan beras komersial sebesar 391.714 ton. Sementara itu, untuk pengadaan beras dari luar negeri telah mencapai 2,54 juta ton. Bayu juga memperkirakan bahwa hingga akhir tahun ini, Bulog kemungkinan dapat menyerap tambahan 200.000 ton beras produksi dalam negeri. ANTARA