SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dua orang tampak mengayunkan sebuah alat yang terbuat dari kayu dirakit menjadi ayakan sederhana. Satu orang lagi menuangkan adonan dari tepung beras ke atas ayakan. Seketika itu butir-butir adonan jatuh ke wajan besar yang berisi cairan gula merah dan terus diaduk agar tak gosong.

Kegiatan menuangkan adonan ke atas ayakan tersebut bukan hal baru bagi sekelompok masyarakat sekitar Jalan Ir H Juanda Sampit. Mereka bergotong royong membuat makanan yang bernama bubur 'baayak', sebuah tradisi tahunan di bulan Safar.

Tadisi ini merupakan budaya Melayu dimana masyarakat membagikan sesuatu yang manis di hari Rabu terakhir bulan Safar. 

"Bubur baayak ini berbeda dengan bubur Asyura yang rasanya gurih. Bubur Safar ini manis, diharapkan bisa menjadi penghilang bala yang identik dengan bulan Safar," kata Muhammad Junus salah satu warga.

Tradisi berbagi bubur baayak pada hari Rabu terakhir bulan Safar, yang dikenal sebagai Arba Mustamir, awalnya dimaksudkan sebagai tradisi tolak bala. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk sedekah dan sarana untuk menjalin silaturahmi.

Pembuatan bubur baayak melibatkan banyak warga sekitar yang bahu-membahu mengaduk adonan bubur di atas wajan besar selama kurang lebih dua jam.

Cara memasaknya yang melibatkan banyak orang tersebut membuat tradisi ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan melainkan juga cerminan nilai gotong royong dan silaturahmi masyarakat.

Proses pembuatannya cukup unik, di mana dua orang memegang ujung gagang kayu di atas wajan besar, sementara di tengahnya terdapat saringan.

Kemudian satu orang lainnya menuangkan adonan bubur, yang kemudian ditekan melalui saringan sehingga terbentuk butiran-butiran kecil yang dimasak hingga matang.

Proses penyaringan ini yang membuat bubur bercita rasa manis tersebut disebut 'baayak' yang berasal dari bahasa Banjar berarti menyaring.

"Bubur baayak terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, gula pasir, gula merah, air, dan santan. Semua bahan ini dicampur dan terus diaduk hingga mengental," imbuhnya.

Kegiatan membagikan bubur baayak ini merupakan inisiatif masyarakat dimana tahun ini mereka mengaduk 40 kilogram tepung beras yang menghasilkan hampir seribu cup bubur setelah dikemas. Bubur tersebut dibagikan kepada masyarakat, bahkan dalam waktu kurang dari 5 menit bubur yang disiapkan ludes diserbu warga.

"Kalau kita memperhatikan mulai dari proses pembuatan hingga akhir, kegiatan ini tidak hanya sekedar menjaga warisan budaya, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan gotong royong. Tradisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana kearifan lokal dapat memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)