JAKARTA –
**Borneonews - Banda Aceh**, Stevani Maysche Ibo, seorang pedayung dari Papua Pegunungan, menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi saat menuju dermaga di Waduk Keuliling, Aceh Besar, Rabu lalu. Dalam suasana yang lebih bersahabat dibandingkan dengan kondisi angin kencang yang menghadang pada babak kualifikasi dan semifinal *canoeing* di nomor kayak dan kano 1000 meter yang berlangsung sebelumnya, Stevani bertekad untuk memberikan yang terbaik. Pada pukul 09:20 WIB, Stevani meluncurkan sampan merahnya, yang memiliki nama khusus, Mikhaila Shaqueen, yang merupakan nama anaknya. Meskipun tampil di arena yang menantang, pengalaman serta prestasinya sebelumnya menjadi bekal berharga. Stevani bukanlah pendatang baru di dunia *canoeing*. Ia telah meraih dua medali emas dan satu perak pada PON Jawa Barat 2016, dan sukses menyumbangkan dua medali emas saat PON Papua 2020. Stevani berasal dari Kampung Asei Asei Pulau di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Lingkungan sekitarnya, yang berdekatan dengan Danau Sentani, memberikan kesempatan baginya untuk dekat dengan olahraga dayung. Bakatnya ditemukan oleh pamannya, Rudolf Ohee, seorang mantan atlet dayung yang kini menjadi pelatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Papua. Berkat bimbingannya, Stevani dapat mengembangkan potensi yang ada. Karier Stevani terus berkembang, dan ia bahkan masuk dalam pelatihan nasional Indonesia menjelang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Di ajang tersebut, ia berhasil mempersembahkan medali perak melalui nomor perahu naga 200 meter. Namun, pengalaman dan prestasinya tidak menjamin kemudahan dalam PON Aceh-Sumut 2024. Setelah gap tahun yang cukup panjang, ia harus beradaptasi kembali dalam kompetisi. Setelah dua edisi PON membela Papua, Stevani tidak mendapat panggilan kembali dan memilih untuk bergabung dengan Papua Pegunungan, sebuah provinsi otonom baru hasil pemekaran. Ia menjelaskan bahwa keputusannya ini adalah untuk mewakili provinsi baru tersebut, yang memang membutuhkan atlet andal seperti dirinya. Selama dua tahun terakhir, Stevani menyatakan bahwa ia sempat berhenti berlatih demi mengurus keluarga dan anaknya, Mikhaila Shaqueen. Namun, PON Aceh-Sumut 2024 menjadi kesempatan baginya untuk kembali ke arena dayung. Ia mulai berlatih secara konsisten sejak bulan Mei, setelah bergabung dengan tim Jawa Barat untuk mendapatkan pengalaman berharga. Dalam pergulatan di babak final A nomor kayak 1000 meter putri, Stevani menunjukkan dominasi yang luar biasa. Dia bersaing melawan lima peserta lainnya dan berhasil mencatatkan waktu 3 menit 48,475 detik, menyusul di belakangnya Ramla B di posisi kedua dan Cinta Priendtisca di urutan ketiga. Kemenangan ini menjadi momen bersejarah bagi Stevani, yang tidak hanya menandai kembalinya dia ke dunia atletik tetapi juga membawa medali emas perdana untuk provinsi Papua Pegunungan. Dengan semangat baru dan motivasi yang besar, Stevani berharap pencapaiannya dapat menginspirasi para atlet muda di Papua Pegunungan untuk mengukir prestasi di ajang nasional maupun internasional. Dia menekankan pentingnya mendorong generasi baru agar melanjutkan perjuangannya dalam cabang olahraga dayung, membuka jalan bagi atlet-atlet baru dari provinsi baru tersebut untuk berhasil di pentas yang lebih tinggi. ANTARA