JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa proposal untuk memindahkan lokasi pelabuhan yang menjadi pintu masuk barang impor sangat perlu dibicarakan dan diputuskan secara bersama-sama dalam rapat terbatas dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam penjelasannya di Jakarta pada hari Rabu, dia menekankan pentingnya adanyan rapat tersebut dalam mengevaluasi langkah ini. Zulkifli Hasan juga mengungkapkan bahwa para menteri terkait, termasuk Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, serta Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, hampir mencapai kesepakatan mengenai usulan memindahkan pelabuhan untuk barang impor. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan barang di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Dia menambahkan, jika situasi penumpukan barang tidak teratasi akibat overkapasitas, pengaturan pelabuhan bisa dilakukan dengan memanfaatkan pelabuhan di daerah lain seperti Semarang di Jawa Tengah, Belawan di Sumatera Utara, Batam di Kepulauan Riau, Bitung di Sulawesi Utara, Makassar di Sulawesi Selatan, dan Sorong di Papua Barat Daya. Zulkifli juga menjelaskan bahwa pemindahan jalur masuk barang impor ke luar Pulau Jawa dimaksudkan untuk menahan arus tujuh komoditas impor yang saat ini memenuhi pasar Indonesia. Saat ini, mayoritas barang impor masih melewati pelabuhan yang berlokasi di Pulau Jawa. Dengan perlunya pemindahan lokasi pelabuhan ini, biaya logistik dipastikan akan meningkat, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi harga final barang-barang impor ketika sampai ke konsumen. Zulkifli menegaskan bahwa usulan tersebut telah dibahas dengan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan keduanya sepakat untuk mengangkat isu ini dalam rapat terbatas yang akan datang. Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa pemindahan pintu masuk bagi tujuh komoditas tersebut ke wilayah timur Indonesia bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri. ANTARA